Friday, October 19, 2007

KLOSET RAKSASA DAN KUCING RIG


Ada yang bilang seperti kloset raksasa. Ada juga yang bilang mirip payudara. Namun, sepasang benda ini tidak dibuat untuk dijadikan tempat berak. Tak juga untuk diremas-remas atau dijilat-jilat kalau libido lagi "naik". Ini adalah tempat membakar kondensat hasil perforasi kandungan minyak dan gas di rig darat.



Kucing ini mungkin tak memiliki sesuatu yang spesial. Seperti kebanyakan kucing rumah lainnya, ia manja dan sangat bersahabat. Keunikannya hanyalah pada statusnya yang tidak memiliki rumah. Ia hidup di rig sejak berumur 2 minggu. Pada saat rig moving ke tempat pengeboran baru, ia juga ikut pindah.

10 Oktober 2007,
Rig Apexindo #10, Well Nilam-239
Nilam Field, Kutai Kartanegara

Thursday, September 27, 2007

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Hidup tak pernah berhenti menghadirkan sesuatu yang tak terduga. Berbagai kejadian, orang, benda dan entah apa lagi bentuknya muncul sesuka hatinya. Mungkin kebetulan. Tapi, yang kualami kali ini sepertinya bukan sekedar kebetulan.

Sebuah cerpen sederhana (dilihat dari aspek jumlah kata yang menyusunnya) berhasil menggoda otakku untuk merenungkan isinya yang tak sesederhana jumlah kata-katanya.

Sudah beberapa bulan terakhir ini, aku berusaha berhenti mempertanyakan beberapa hal. Cinta, Tuhan, jati diri dan tujuan hidup. Aku berusaha menganggap bahwa semua itu sudah cukup. Tak perlu lagi dipertanyakan atau dicari jawabannya. Buang waktu, energi dan duit karena ternyata aku ‘tak mendapatkan apa-apa’.

Selama masa ‘berhenti’ tersebut, hidup yang kujalani menjadi lebih sederhana dan lebih ‘manusiawi’. Paling tidak, aku tak sering lagi tidur subuh karena pikiran yang tak mau berhenti mengembara. Tak kutemui lagi asbak rokok yang kepenuhan di lantai kamar ketika aku bangun siang harinya. Tak lagi kuhabiskan waktu setelah makan siang hingga sore hari di toko buku untuk mencari buku-buku meditasi dan spiritualitas, kemudian dilanjutkan dengan membolak balik setiap halamannya hingga larut malam. Dan, yang paling terasa adalah aku ‘merasa’ lebih menikmati hidup.

Kembali ke masalah cerpen. Pencarian cinta dan Tuhan dianalogikan dengan mengupas lembar demi lembar sebutir bawang merah. Ketika mata sudah memerah mengalirkan air mata ke pipi yang menghangat, jari-jari dan kuku merekah karena penetrasi minyak atsiri ke dalam sel-selnya dan lembaran terakhir bawang merah sudah terlalu kecil untuk bisa dikupas, ternyata tak ada yang tergenggam. Yang tersisa hanya mata yang perih, jari tangan yang terasa membara dan aroma menyengat. Singkat kata, cinta dan Tuhan bukanlah penjelasan, tapi pengalaman. Bukan pula tujuan, tapi perjalanan.

Sepintas lalu aku sangat setuju dengan kesimpulan tersebut. Sepanjang hidupku, belum kutemukan definisi sempurna tentang cinta dan Tuhan. Definisi hari ini bisa berbeda dengan lima hari yang lalu, meskipun keduanya sama-sama benar (tapi mungkin juga salah).

Aku lalu meyakini bahwa pengalaman dan perjalanan lah cinta dan Tuhan itu. Setiap orang bisa mengalaminya dengan cara yang berbeda. Penjelasan hanyalah usaha untuk menggambarkan pengalaman, namun tak cukup berhasil merepresentasi yang sesungguhnya. Pengarang cerpen itu sepertinya benar bahwa penjelasan dan pengalaman adalah dua hal yang berada pada ranah yang tak sama. Dengan kata lain, pengalaman tak bisa digambarkan melalui penjelasan (baca: kata-kata).

Keyakinan itu membuatku ‘berhenti’. Menganggap bahwa aku sudah paham. Tak perlu lagi bertanya dan mencari. Jika hidup (dalam hal ini pencarian cinta dan Tuhan) dianggap sebagai sebuah universitas, aku sudah lulus dengan nilai yang memuaskan.

Rasa nyaman yang ditimbulkan oleh anggapan bahwa aku sudah menjadi seorang ‘sarjana kehidupan’ berjalan menjadi rutinitas. Aku menjadi apatis terhadap hal-hal yang berbau pencarian dan perjalanan tadi. Seolah tak ingin lagi melakukan keduanya.

Setelah membaca cerpen tersebut, sebuah pemikiran baru merasuki otakku. Aku mulai meragukan keyakinan yang beberapa waktu terakhir ini mengkristal dalam pikiranku. Benarkah sudah waktunya berhenti bertanya dan mencari? Cukupkah pengalaman dan perjalanan yang telah kutempuh selama ini?

Dua pertanyaan ini berhasil merobohkan pertahananku (sepertinya dalam hal ini berbeda tipis dengan keangkuhan). Aku lalu mencoba bertanya jawab dengan diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah kugumuli dan (menurutku) sudah ketemukan jawabannya. Namun, ternyata aku tak bisa menjawab sama sekali.

Insomnia kembali menjadi akibatnya. Puluhan batang rokok kembali menjadi teman setiaku. Buku-buku dan artikel filosofis tentang hidup kembali menjadi bacaan favorit. Keinginan untuk bertanya dan mencari bangkit lagi dalam diriku. Aku mulai meragukan seberapa besar pemahaman yang kuberikan kepada cinta dan Tuhan sebagai pengalaman dan perjalanan. Namun, ada yang berbeda kali ini. Aku merasa lebih tenang dan sabar menjalaninya. Tak lagi obsesif dan menggebu-gebu seperti dulu.`

Sepertinya, menuntut ilmu di universitas kehidupan memerlukan waktu yang tak terbatas. Selama jiwa masih terperangkap dalam realitas fisik, aku masih berstatus mahasiswa. Aku ingin mempelajari sebanyak mungkin materi kuliahnya dengan harapan pada saatnya nanti aku akan lulus dengan predikat cum laude.

~ Inspired by “Semangkok Acar untuk cinta dan Tuhan” (Dewi Lestari, www.dee-idea.blogspot.com) ~

Kutai Rig-3, Well Mutiara #90, 26-27 September 2007

Friday, August 3, 2007

MENARA BABEL II

“Mutandai pa ma’basa Toraya?”
Sebuah pertanyaan yang beberapa kali diajukan orang ke saya belakangan ini. Terjemahan bebasnya “Masih bisa bahasa Toraja?” Sebenarnya, ini hal yang sangat sederhana namun cukup membuat saya berpikir dengan seringnya pertanyaan tersebut diajukan ke saya.

Dengan bangga saya selalu menjawab “bisa dong”. Sebagai orang yang lahir dan besar di daerah, bukan hal yang aneh kalau saya masih fasih berbicara dalam bahasa setempat. Justru akan malah aneh kalau saya bilang, “Tahu dikit” atau “ngerti sih tapi gak terlalu bisa”.

Seorang guru besar pendidikan bahasa salah satu universitas di Jakarta pernah menulis kekhawatirannya tentang tendensi penurunan kemampuan berbahasa daerah di kalangan anak muda jaman sekarang. Dari data yang ada, puluhan bahasa daerah di nusantara ini telah punah dan ratusan lainnya sedang terancam punah. Sebuah kondisi yang menurut beliau perlu diberi perhatian serius. Kepunahan bahasa daerah berarti pula kepunahan budaya. Nilai-nilai adat berupa kehalusan sikap dan tutur kata bukan mustahil akan lenyap seiring lenyapnya bahasa daerah.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat mengobrol dengan seorang turis asal Belgia di acara penguburan kakek saya. Tinggal di negara yang diapit oleh beberapa negara dalam bahasa yang berbeda-beda membuatnya fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda. Menurut pengakuannya, hampir semua temannya memiliki kemampuan bahasa yang sama. “Wah, hebat yah” puji saya. Dia lalu menjawab “Kamu juga. Kamu bisa bahasa Inggris, Indonesia, Jawa dan Toraja. Kita sama-sama bisa empat bahasa kan?”

Saya menyimak lebih jauh tulisan guru besar tadi. Seandainya semua bahasa daerah di Indonesia sudah punah maka yang tersisa hanyalah bahasa Indonesia. Sementara, tren yang sedang berkembang saat ini adalah digunakannya beberapa kata-kata dalam bahasa Inggris di dalam percakapan sehari-hari. Kita bisa lihat dalam beberapa lirik lagu, seperti “Maaf kita putus, so thank you so much, I’m sorry goodbye atau ”once upon a time, ada sebuah bintang”. Ada kemungkinan beberapa generasi ke depan, tidak akan ada lagi lagu dengan lirik bahasa Indonesia utuh yang diciptakan seniman Indonesia.

Saya kira semua orang setuju kalau bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa internasional. Semua orang sedang berusaha untuk bisa menguasai bahasa tersebut untuk bisa bersaing dan bertahan hidup. Bukan hal yang aneh jadinya kalau suatu saat nanti bahasa yang tersisa tinggal bahasa Inggris.

Kalau saya perhatikan, sekarang ini tidak banyak lagi anak-anak umur sekolahan dari daerah saya yang menggunakan bahasa Toraja dalam percakapan sehari-hari. Yang ada adalah bahasa Indonesia dengan dialek lokal. Menurut mereka, ada kebanggaan tersendiri apabila mereka menggunakan bahasa Indonesia apalagi kalau dicampur sedikit-sedikit dengan bahasa Inggris dalam pergaulan. Gengsi juga menjadi salah satu alasan bagi mereka untuk tidak lagi memakai bahasa daerah. Kalau teringat percakapan saya dengan bule Belgia tadi, saya jadi bingung. Bagi saya, kemamupuan berbahasa daerah merupakan sebuah kebanggaan karena menambah daftar bahasa yang saya kuasai tapi dari sudut pandang mereka, itu adalah sebuah hal yang bisa menurunkan prestise dan kadar “gaul”.

Saya lalu teringat kisah menara Babel dalam kitab Kejadian. Tuhan mengacaubalaukan manusia dengan menciptakan banyak bahasa sehingga mereka tidak dapat lagi berkomunikasi dengan baik. Momen tersebut menandai hancurnya keangkuhan manusia di hadapan Tuhan. Saya jadi berpikir, mungkinkah gejala punahnya bahasa-bahasa daerah yang (semoga saja) tidak disusul oleh kepunahan bahasa-bahasa nasional adalah titik awal sebuah kehancuran baru? Kalau dulu, Tuhan menegur manusia dengan membuat banyak bahasa, mungkinkah sekarang Tuhan sedang menegur kita dengan cara yang terbalik? Mungkinkah kita sedang membangun menara Babel yang kedua?

3 Agustus 2007
Kutai Rig-3, Well Semberah #82

Wednesday, July 18, 2007

TATAPAN MATA

Ada yang janggal tiap kali kau ada di dekatku. Sebentuk perasaan aneh mengisi ruang hatiku tatkala interaksi terjalin di antara kita. Matamu laksana medan magnet panca indera. Memancarkan sejumlah energi yang sanggup menarik kelima inderaku untuk menyatu bersamanya.

Tatapanmu mengandung bahasa tak beraksara. Entah dengan alat apa aku bisa membacanya. Aku hanya bisa membalasnya dengan mengirimkan signal yang sama. Seandainya aku sedang berada dalam Mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging), tentu caudate nucleus ku sedang menyala dalam kapasitas maksimum. Kapsul Prozac pun kurasa takkan sanggup meningkatkan kadar serotonin dalam darahku saat ini.

Aku menjelajahi ranah tak berwadah dalam tatapanmu. Mencoba menemukan sesuatu yang bisa kupahami dengan sempurna. Kubentangkan kesadaran kolektif yang memuat memori masa-masa kecil. Mungkin sosokmu adalah representasi masa itu dalam wujud yang berbeda. Tatapanmu menggiringku kembali ke masa puluhan tahun silam. Aku tak tahu, sosokmu mengingatkanku pada ibu, ayah, saudara, teman sepermainan atau malah diriku sendiri. Thomas Lewis mungkin benar dengan teorinya. Cinta berakar pada pengalaman masa kanak-kanak yang terpatri dalam alam bawah sadar. Rasa nyaman pada masa kecil selalu diupayakan untuk diraih kembali pada saat dewasa.

Kutinggalkan kenangan masa lalu yang tak memberiku kesimpulan akhir. Aku tetap membalas tatapanmu. Berusaha menemukan hal lain yang bisa memberiku jawaban. Matamu laksana bintang yang bersinar terang, mungkin setara dengan bintang Timur yang dilihat orang-orang Majus menjelang kelahiran Yesus. Bulu matamu yang lentik serupa lekukan jemari penari-penari perempuan Bali yang membentuk konfigurasi yang sangat nyeni. Physically, kuakui tampangmu menarik, sangat menarik malah. Tapi, hanya itukah yang sanggup menstimulasi produksi dopamin dalam tubuhku? I don’t think so. Banyak yang lebih menarik darimu di luar sana, tapi saat aku menatap mereka, aku tak merasakan sensasi seperti saat memandangimu.

Aku menggenggam tanganmu dengan lembut. Mengelusnya dengan penuh perasaan. Sejumlah getaran merambati sekujur tubuhku. Membuat rambut-rambut halus di sekujur permukaan tubuhku bereaksi. Inikah yang dinamakan birahi? Maybe. Aku menduga, saat kulit kita bersentuhan sejumlah oksitosin dialirkan ke dalam tubuhku. Membuatku ingin mendekapmu dengan hangat. Menyentuhkan sebanyak mungkin permukaan kulitku dengan permukaan kulitmu.

Akhirnya aku menyerah. Tak kutemukan jawaban dalam tatapnmu. Ia tetaplah misteri indah yang selalu kunikmati. Yang aku tahu dan miliki hanya rasa. Tak terdefinisi dan tak berwujud. Mungkin rasa yang orang bilang CINTA.

“Buat seseorang yang tak bisa dan tak mungkin kumiliki”

Balikpapan, 17 Juli 2007.

Catatan : Artikel tentang MRI dan caudate nucleus dapat dibaca dalam National Geographic Indonesia Edisi Februari 2006.

Monday, June 11, 2007

MAAF, AKU JENUH...!

Merenung selalu menjadi kegiatan yang menarik buatku. Tidur terlentang dengan pandangan terpaku pada langit-langit kamar atau duduk memeluk kedua lutut sambil memandangi kegelapan malam. Bahkan, dalam bis antar kota seraya memandangi pepohonan di sepanjang jalan yang seolah berlarian di sisi bis. Hening. Tenang. Damai. Aku seakan menciptakan dunia sendiri yang tak berbatas dimensi. Bebas menjadi apa saja sekaligus bebas ngapain aja. Tak ada aturan, sanksi dan orang-orang yang merasa layak menjadi hakim. Selama berjam-jam, pikiranku sanggup mengembara di ranah tak terpetakan.
Banyak yang bilang aku menyikapi hidup terlalu serius. Terlalu banyak mikir hingga lupa menjalani kehidupan nyata. Jarang tertawa dan bersenang-senang hingga kebanyakan mengeluh dan mendesah nafas.
Seperti saat ini. Aku tersentak kaget ketika mendengar sebuah suara yang tiba-tiba bernada tinggi dan sedikit emosional. Rupanya, tadi aku sedang merenung di tengah-tengah khotbah Paskah. Untungnya, udara subuh yang dingin tak membuatku tertidur. Aku mengalihkan mataku ke arah mimbar dan mendapati Pendeta Lukas sedang mengacung-acungkan tangan kanannya yang terkepal dengan kuat. Mimik mukanya tegas dengan pandangan mata yang tajam. Badannya sedikit condong ke depan. Aku sempat khawatir ia terjungkal saking semangatnya.
“Dengan darahNya, Ia telah menghapus semua dosa kita. Apa makna kalimat ini buat kita? Sudah layakkah kita menjadi orang percaya? Sudahkah kita berterima kasih dan bersyukur untuk pengorbananNya di kayu salib? Saudara-saudara yang kekasih dalam………………………”
Aku tak berniat menyimak kalimat-kalimat selanjutnya. Basi dan kemungkinan besar repetitif. Tak jauh beda dengan khotbah tahun kemarin yang sayangnya tak kuingat lagi dengan sempurna. Eksplorasi dari buku renungan harian yang diterbitkan Badan Majelis Gereja untuk semua anggota jemaat.

Aku tak sedang mengatakan kalau pendeta Lukas berbohong dan mengumbar janji-janji palsu. Aku juga tak bermaksud meremehkan kualitas pendeta Lukas sebagai “penyambung lidah” Tuhan. Aku hanya menginginkan sebuah hal baru yang mampu menggugah perasaan. Sebuah pemahaman yang mendalam. Tak hanya singgah temporer di otak, lalu hilang tergantikan entri-entri baru. Aku mengharapkan sesuatu yang mampu mengakar kokoh dan tumbuh subur menjadi pikiran, kata-kata dan perbuatan yang nyata, tulus dan sinambung.
Aku kembali ke alam ciptaanku sendiri. Mencoba larut dalam khayalan. Untuk mengurangi perasaan berdosa, kali ini aku akan merenung tentang Tuhan. Renungan tentang paradoks, bukti empiris atau apa saja yang sanggup kuciptakan tentang Dia. Khotbah tak selalu berarti mendengarkan penjelasan satu arah dari pendeta di mimbar. Bentuk khotbah yang tidak adil, menurutku. Terkadang aku memiliki segudang pertanyaan saat khotbah berlangsung, namun tak mungkin mengajukannya. Di sisi lain, tak jarang pula aku tak setuju dengan beberapa penjelasan, namun lebih tak mungkin lagi untuk mengajukan bantahan. Begitu kebaktian selesai, aku pulang dengan membawa tumpukan pertanyaan dan rasa penasaran. Lalu apa gunanya khotbah-khotbah tersebut? Mungkin akan terlalu kejam kalau aku menganggapnya sebagai ceramah rutin mingguan dari seorang karyawan gereja yang dipanggil “Pak Pendeta” atau “Bu Pendeta” oleh anggota jemaat. Ceramah rutin yang dibayar dengan uang persembahan dari peserta, yang katanya diberikan dengan tulus.
Pergumulan logika dan iman dalam diri sendiri merupakan bentuk khotbah tersendiri buatku. Dalam kondisi tertentu, aku bahkan merasa lebih mengenalNya dengan cara seperti itu. Banyak hal yang bisa kugali sesuai kebutuhanku.
“Tu-han, Tu-han, Tu-han.” Aku mengejanya tiga kali. Kucoba beberapa kali lagi, semakin lama dan semakin cepat. “..-han-Tu-han-Tu-han-Tu-..” Perasaan janggal menyergapku seketika. Sebuah permainan suku kata yang sangat menarik. Entah kenapa, aku baru memperhatikannya sekarang. Sepandai inikah pencipta bahasa Indonesia memilih kata “TUHAN” hingga bila diejakan berkali-kali secara berurutan mampu menimbulkan sensasi yang aneh, bahkan bisa dibilang mengerikan? Bagaimana dengan G-O-D, D-O-G? Adakah korelasi khusus? Unsur kesengajaan? Atau malah hanya sebuah kebetulan yang tak menyiratkan makna apa-apa?
“Doa. A-do. A-o-d.” Tak ada yang aneh. Kata orang doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Media mengucap syukur sekaligus mengajukan permintaan dan harapan. Aku berharap yang kedua benar. Isi doaku dua puluh tahun terakhir ini tak pernah berubah. Ketergantungan anakku kepada obat-obat penenang sungguh menyiksa kami. Beberapa hari yang lalu, ia tidak mau minum kedua obatnya. Sudah sehat kok, katanya. Kemarin, ia mulai menutup diri, tak mau berbicara dengan siapapun. Aku tak kuat melihat tatapan matanya yang begitu tajam, seolah mengandung dendam dan amarah yang begitu besar. Saat aku mencoba menawarkan makan malam, ia malah membentak dan mengancam akan membunuhku. Aku hanya bisa menangis di saat-saat seperti itu. Saat ia mulai merasa sehat, ia mencoba menghentikan obatnya. Akibatnya, ia mengisolasi dirinya, mengurung diri dalam kamar yang gelap. Kaca jendela rumah sudah beberapa kali diganti akibat terhantam kursi yang dilemparkannya. Untungnya, ia tak pernah menyakiti aku secara fisik. Saat jiwanya terganggu, ancaman-ancamannya hanya sampai di lidah saja.
Setiap malam sebelum tidur, aku menundukkan kepala memohon kesembuhannya. Tak jarang aku berdoa sambil menangis. Menempatkan diriku sebagai seorang teman yang sedang curhat. Kutumpahkan segala perasaan yang ada. Tak ada perasaan malu atau ragu. Tak ada lagi yang kusembunyikan. Semua kuungkapkan dengan harapan bisa mengurangi beban yang kutanggung. Namun, aku mendapati diriku berinteraksi dengan diri sendiri. Tak ada respon apalagi jawaban verbal. Tak layakkah aku mendengar suaraNya seperti aku yakin Ia mendengar suaraku? Masih kurangkah doaku selama dua puluh tahun? Kurang banyak kah air mata yang kucurahkan mendoakannya? Masih terlalu kuatkah aku hingga harus menanggung pencobaan seperti itu?
Aku tak kuat memikirkannya lebih lama lagi. Kelopak mataku mulai terasa hangat. Pandanganku mengabur. Aku tak ingin terlihat aneh di dalam gedung gereja ini.
Aku menjelajahi dunia yang lain. Melepaskan kenyataan hidup yang mau tak mau harus kujalani dengan penuh ketabahan.
Paskah. Tak ada niat mengeja terbalik atau menyusun ulang huruf-huruf yang membentuknya. Tak ada manfaatnya buatku. Aku berusaha meyakininya sebagai kebangkitan Kristus. Kebangkitan dari kematian selama tiga hari. Tiga hari? Bukannya dua hari? Disebutkan Ia mati pada hari Jumat Agung dan bangkit pada hari Minggu yang kemudian disebut Paskah. Entahlah, biar ahli Fisika saja yang mempersoalkannya.
Aku mencoba kembali ke masa-masa penyaliban Yesus. Berimajinasi seolah-olah aku berada di sana saat itu. Beberapa jam setelah disalibkan, Ia diturunkan dari kayu salib dengan luka memar dan tusukan di sekujur tubuhNya. Kusaksikan Yusuf dari Arimatea membawa jasadNya ke sebuah gua. Nikodemus datang membantunya. Aku mengikuti dari belakang. Setelah membaringkan jasad Yesus di atas sebuah batu pipih yang panjang, mereka memborehkan sesuatu ke tubuh Yesus. Aku mengenalinya sebagai minyak mur dan gaharu dari aromanya yang tajam menusuk hidung. Keningku berkerut. Ada yang aneh. Sebelum dikafani untuk dikuburkan, setahuku jasad orang Yahudi hanya dimandikan untuk penyucian yang disebut Tahara. Tidak ada acara pemborehan minyak mur dan gaharu. Kedua minyak itu biasanya digunakan untuk menyembuhkan luka. Aku memikirkan sebuah kemungkinan. Untuk apa Nikodemus membawa minyak mur dan gaharu? Sebagai orang Yahudi, harusnya dia tahu kedua minyak itu hanya dipakai untuk menyembuhkan luka, bukan untuk diborehkan pada mayat. Mungkinkah Yesus hanya pingsan setelah melewati penderitaan fisik yang begitu kejam beberapa jam lalu? Yang kemudian sadar dua hari kemudian setelah minyak mur dan gaharu menyembuhkan luka-lukaNya? Mungkinkah Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea ……………
Kesibukan kecil orang-orang di sebelahku membuyarkan lamunanku. Gadis muda di samping kananku menutup Alkitab bersarung kain merah muda dengan lembut. Takut ada lembaran yang terlipat. Beberapa pria di belakangku terbatuk berkali-kali. Mungkin kebanyakan merokok. Rupanya, khotbah pendeta Lukas sudah selesai. Beberapa lagu dari Kidung Jemaat kemudian kudengar dinyanyikan dengan sangat merdu.
Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Pikiranku tak lagi berada bersama ragaku. Yang aku sadari, orang-orang mulai berdiri dan saling bersalaman sambil berucap, “Selamat hari Paskah.” Aku segera keluar dari gedung gereja. Tak kuhiraukan gadis ber-Alkitab merah muda yang tersenyum kepadaku sambil mengulurkan tangan kanannya.
Pikiranku dipenuhi dengan minyak mur dan gaharu. Bayangan anakku dengan ratusan tablet Trihexypenidil dan Haloperidol yang telah dikonsumsinya melintas dengan sangat jelas di kepalaku. Kelopak mataku tak sanggup lagi menahan aliran air mata yang menumpuk di sana. Menunggu untuk ditumpahkan. Menghanyutkan sekian mililiter adrenalin yang kata orang bisa mengurangi rasa pedih. Omong kosong.
Tak sekalipun kulewatkan ibadah di gereja setiap hari Minggu. Tak pernah kupejamkan mataku sebelum berdoa terlebih dahulu. Tak pernah kuawali hari-hariku tanpa membaca firmanNya. Tak pernah aku mengumpat dan menyesali telah melahirkan anak yang sakit jiwa. Tak henti-hentinya aku bersyukur di tengah penderitaanku.
Namun apa yang kuperoleh?
Doaku selama dua puluh tahun mungkin hanya menjadi puisi yang indah buat menghibur malam-malamNya. Tak bisakah sekali saja Ia menjawab doaku? Aku tidak akan melupakanNya setelah itu. Kurasa, Ia pun tidak akan kehilangan wibawa di mataku dengan satu kali saja mengikuti kemauanku. Aku sudah menganggapNya sahabat setia yang bersedia mendengar keluh kesahku. Tapi, aku mulai muak dengan semua kepura-puraan ini. Bersyukur di tengah penderitaan. Berbicara kepada ‘sesuatu’ yang mulai kuragukan eksistensinya. Bersahabat tanpa pernah merasakan kehadiranNya.
Aku capek……
“Yesus, semakin aku mendekat kepadaMu, aku merasa Kau semakin jauh. Apakah aku tak layak? Marahkah Kau padaku? Bosankah Kau menjadi temanku?” Semua hanya berujung pada pertanyaan yang tak bisa kujawab.
“Aku perlu istirahat. Kurasa hubungan kita sudah memasuki fase jenuh. Tersaturasi oleh harapan-harapan yang tak kunjung terwujud. Aku tak mengerti jalan pikiranMu. Ada baiknya kita berpisah untuk sementara. Mencoba merasakan hidup tanpa berharap padaMu. Mungkin dengan cara seperti itu, aku akan mengerti apakah diriMu berarti atau tidak, eksis atau ilusi. Juga, apakah aku akan kangen atau malah benci padaMu?”
“Maaf, aku jenuh……………………………………!!!”

Salatiga, 31 Maret 2007

Friday, June 8, 2007

TANYA

Sepuluh tahun berlalu. Jarak hadir melengkapi ruang dan waktu. Ketiganya ternyata mampu mengaratkan rasa dan esensi yang (dulu) kuyakini tak akan lekang oleh dimensi apapun.

Sejujurnya, aku belum rela kehilangan kenangan manis bersamamu. Namun, aku juga tak bisa bohong bahwa kenangan itu telah mulai pudar. Berkali-kali, aku memutar kepingannya yang terekam dengan baik dalam otakku. Repetisi berujung pada kebosanan dan putus asa. Kau hadir dalam bayang-bayang. Hanya terjangkau oleh pikiran yang akhirnya meletihkanku.

Aku kadang bertanya – entah pada siapa. Mengapa harus ada ketakbersamaan? (Aku tak sampai hati menyebutnya perpisahan). Itukah yang terbaik buat kita? (Kalau iya, mengapa rasanya tidak enak?). Perlukah aku memikirkanmu? (Karena kadang aku merasa sedang menjaring angin). Namun, aku terus bertanya. Tanya yang dijawab tanya.

Akankah hadirmu menghentikan segala tanya?

Ternyata tidak. Tatapan matamu tak lagi sama. Bahasa tubuhmu tak lagi hangat. Aku pun tak lagi seperti yang dulu. Ada rantai yang seolah mengikat kedua tanganku merengkuh pundakmu. Mulutku terkatup. Tak ada kata yang mampu terucap. Kuterima uluran tanganmu seperti berkenalan dengan orang baru. Senyum kamuflase menghiasi bibirku, juga bibirmu.

‘Gimana kabarnya?’ Pertanyaanmu standar tak bermutu. ‘Baik-baik aja. Kamu gimana?’ Jawabanku pun tak lebih baik. Adakah kita memang baik-baik saja? Aku tak yakin. Tapi, hanya itu yang sanggup kuucap. Sepuluh tahun sudah membekukan segala rasa yang ada. Beku hingga tak bisa lagi meleleh. Aku tak lagi nyaman berada bersamamu dan aku yakin kau pun begitu.

Apa yang salah? Dirimu kah yang tak lagi sehangat dulu?, diriku kah yang hanya membawa puluhan tanya? atau jarak dan waktu kah yang membuat kita tak bersama? Hanya tanya yang kudapat.

Entah kenapa, aku terus bertahan di dalamnya. Berpindah dari satu tanya ke tanya yang lain. Ingin meloncat keluar dari lingkaran ini. Bebas dari deretan tanya tak terjawab. Namun, kudapati diriku stagnan di sini. Larut dalam tanya. Tak lagi kulihat beda, ada atau tiada dirimu. Yang ada hanya tanya.

Salatiga, 25 Maret 2007.
‘Ditulis untuk seorang sahabat yang selalu menantangku untuk menulis. Thanks for challenge and support me all the time.’