Friday, September 6, 2013

CLOSE THE CURTAIN, PLEASE!

The moon silhouette behind my semi-opened curtain. Calmness, hush, stillness. One perfect night for contemplation before bed time. But out of the blue, here comes a message: less expectation leads into extra surprises. The universe has just whispered it right after the moon break open the black clouds.

Sound of horny geckos somewhere in the ceiling. An annoying – intermezzo, entr'acte, interlude. One clear intervention to bring me back into realm before bed time: what was that mean? Hence the universe’s whisper exponentially dilute into the air. I’m now whispering to my own self right after the black clouds vanished behind my semi-open curtain.

“None of us can choose what surprise tomorrow will bring; none of us can escape it.” The moonlight answers, perhaps. I heard no voice come out of my throat. “Then why do you keep questioning what you expect – less, more, or even something in between?” it continues.

“I don’t even think I expect something.” I’m trying to defend myself with a big lie. Who the hell was that – the moonlight or perhaps the horny geckos – which brave enough to judge what I’m thinking?

“There’s a difference between expecting nothing at all than less expectations. Less expectation means you still expect something, even though it’s too small to be counted,” here comes the voice again – the moonlight or perhaps the horny geckos.

“Is it?”

There’s no answer, only the moonlight and the horny geckos.

Five seconds …

Thirty seconds …

One minute …

Still there’s no answer.

I rise and walk to the window. Grab the curtain’s rope and expel the moonlight – also the horny geckos – out of my chamber. “I don’t want big surprises; a small one will be more than enough already. I’m sorry, I have to close the curtain. It’s time to sleep now!”


“Have a nice dream, you there!”

CERDAS 24 JAM

“Tak ada manusia yang selalu cerdas 24 jam sehari.”

“Alasan!” Kau merengut. Matamu menyolot. Rahangmu mengencang. Kedua tanganmu menggantung di udara, tepat di samping kupingmu. Seperti binatang buas siap menerkam mangsa.

Aku tahu kau kesal. Tapi apa lagi yang bisa kubilang? Tak pernah ada penjelasan yang bisa membuatmu puas. Selalu saja ada protes dan bantahan. Membuat bibirmu bergerak-gerak ritmis dalam tempo accelerando.

“Iyaaa… Tapi nggak harus pake alasan itu, kan?” Melodimu berubah crescendo. Akhir nadanya meninggi penuh emosi. Tak ada arti aku bicara. Tapi aku yakin, ketika aku diam, kau akan semakin menjadi-jadi. Lalu, aku harus bagaimana?

“YES or NO?” Kau mengancam. Matamu menajam menunggu jawaban.

Oh, Tuhaaan… Bagaimana harus kujawab pertanyaanmu? Ini bukan tentang ‘ya’ atau ‘tidak’, Sayang. Tak akan cukup. Menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ akan sama saja. Selalu saja kau punya penjelasan yang membuatmu seperti lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Lalu, jawaban mana yang harus kupilih? Sudah kubilang aku tak bisa cerdas 24 jam sehari.

Kunyalakan sebatang rokok. Isyarat semoga kau paham bahwa ini sungguh tak mudah. Sengaja, tak kutekan pemantiknya dengan sempurna agar aku punya alasan untuk mencari korek di tempat lain. Maaf, ini sandiwara. Tapi, apa lagi yang bisa kulakukan agar terbebas dari jerat matamu?

“Sudahlah.” Aku menghela napas. Keras. “Apa pun yang ada di kepalamu tak akan mengubah apa-apa.”

Wajahmu memaling. Kau menyusut butiran bening yang mengalir pelan dari kelopak matamu. Bahumu terguncang naik-turun. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirmu selain isak tangis yang setengah mati berusaha kau tahan.

“Hey… Come on!” Kusentuhkan telapak tanganku ke bahumu. Pelan dan sangat hati-hati. Aku tak pernah sanggup melihatmu menangis. Sebagian jiwaku serasa tercerabut tiap kali lapisan bening itu mendanaukan matamu.

Kau menatapku. Gamang. Kusambut dengan senyum tertulus yang pernah kumiliki. Hanya itu yang kupunya saat ini. Tak ada suara, tak ada kata-kata. Kadang, hati hanya sanggup berbahasa tanpa aksara. Tapi aku yakin kau membacanya. Ketika kutuliskan pada ceruk hatiku bahwa aku mencintaimu dengan cara yang kau tahu, kekuatan yang kau sadari, ketulusan yang kau rasakan, dan durasi yang kuharap akan selamanya.

Percayalah, tak ada manusia yang selalu cerdas 24 jam sehari.

MEMBERI TELINGA

Andai langit adalah wajahmu, maka kedua matamu adalah sepasang kumulonimbus yang siap menuang hujan. Pekat yang padat, kelam yang tak tergenggam. Namun tetap saja, mendung itu tak kunjung bandang. Dan aku selalu kagum pada kemampuanmu melawan gravitasi, hingga kumpulan air itu tak juga mengalir. Bahkan menetes pun tidak.

Suaramu lirih nyaris tak tergubris, namun menghadirkan bisik yang mengusik. Entah gendang telingaku yang tak lagi mumpuni memerankan fungsi, ataukah memang kau hanya ingin menggumam. Dan aku selalu salut pada kemampuanmu diabaikan, hingga gumaman itu tak kunjung terbalas. Bahkan tersimak pun tidak.

Maaf. Aku sanggup membaca nada. Tak perlu lirik, aku tahu apa yang tersirat dalam setiap lagu yang kausenandungkan. Aku paham apa yang kaulepaskan dalam setiap desah napasmu. Aku mengerti apa yang kaukirimkan lewat tatapan mata yang mendadak menjadikanku seperti seorang tertuduh. Dan aku tak bilang apa-apa. Bisa jadi kurang empati, atau mungkin karena aku sok tahu.

“Terus?” aku mencoba memecah bisu yang mulai membuatku ragu: adakah ‘terus’ cukup membantu?

Kautersenyum. Satir dan membius. Ada gelisah tak terwadah, juga resah yang ingin pecah. Dan aku hanya bisa pasrah. Mendengar kisah yang itu-itu lagi menggiringku pada jenuh yang sesungguhnya ingin kumuntahkan. Kadang kita membenci hidup, bukan? Namun tetap saja kita rela bernapas untuk memanjangakan durasi nyawa. Dan pasti akan terlalu naïf jika mendadak aku ingin tuli saja. Tuli yang temporer, tentu saja.

Sedari tadi, kedua potong bibirmu yang mulai tampak kehitaman bergantian menyentuh dan memisah satu sama lain. Tetap saja begitu, meski dari selanya terembus asap rokok yang kerap memicingkan mata dan mengerutkan keningmu. Sudah kubilang, nikotin tak bagus buat kesehatan, namun selalu saja kauabai. “Pajak rokok salah satu sumber devisa negara terbesar, lho,” jawabmu retorik dan menyebalkan.

Kadang kau tertawa sendiri. Aku tak tahu bagian mana yang lucu dari deretan kisah pilu yang kaulisankkan. Entah kau yang mulai tak waras, atau aku yang telah kehilangan selera humor. Namun barangkali, begitulah caramu memaknai hidup: menertawakan kepedihan. Dan di tengah narasi pajang-lebarmu, tak ada celah sedikit pun untuk kujeda. Bahkan ketika kaumulai tertawa sendiri. Mungkin tak perlu. Atau bisa jadi, aku yang kurang peduli.

Berputar mengedari siklus yang sama selalu berujung pada kebosanan. Miskin warna, tak ada nuansa. Mendengar cerita yang itu-itu saja membimbingku pada jemu yang sebenarnya ingin kuludahkan. Kadang kita membenci tuhan, bukan? Namun tetap saja kita menghujaninya dengan doa-doa sarat harapan ketika hidup terasa menjelma pengkhianat.

Lalu, di manakah cinta ketika aku tak lagi suka mendengarmu mengeluh tentang yang itu-itu lagi? Ke manakah cinta ketika untuk sekadar mendengar pun aku tak lagi sudi? Mungkin, dia bersembunyi sambil menunggu untaian kata-kata manis penuh rayuan gombal kembali memerahkan bibirmu. Barangkali, ia menanti puja-puji yang seluas angkasa ketika kaubisikkan mimpi-mimpi tentang indahnya kebersamaan. Atau, barangkali cinta telah menjelma menjadi gendang telinga yang tak ingin tuli.

Mencintai …

mungkin adalah sekadar memberi telinga …

… untuk mendengar.




Tuesday, September 3, 2013

TANPA EKSPRESI.HANYA ISYARAT

Ia pernah berciuman dengan api unggun. Dengan kobar nafsu yang menyala-nyala, lalu padam dalam semalam. “Aku tak suka pada cinta yang dinikmati beramai-ramai,” kata dia mendesah napas. Lalu, dari onggokan kayu yang telah habis menjadi abu, seseorang menyeruak perlahan. Tanpa ekspresi. Hanya isyarat.

Ia pernah bercumbu dengan lampu lalu lintas. Kadang hijau, kuning sesekali, paling sering merah. “Aku tak tahan pada cinta yang digilir-gilir,” ujarnya sesenggukan. Lalu ketika mesin-mesin kendaraan itu kembali menderu, seseorang bergeming di sana. Juga tanpa ekspresi. Hanya isyarat.

Ia pernah bersetubuh dengan lampu Natal. Gemerlap, dinamis, romantis. “Aku benci pada cinta yang hanya datang di bulan Desember,” ucapnya berlinang air mata. Lalu ketika lampu-lampu mungil itu disimpan, seseorang menyisakan cahaya. Masih tanpa ekspresi. Hanya isyarat.

Ia pernah bersenggama dengan kembang api. Spontan, menggairahkan, namun tunduk pada durasi. “Aku muak pada cinta yang cepat usai.” Kali ini ia menggerung. Lalu ketika meriah kembang api habis dienyahkan malam, langit melukis sesosok wajah. Lagi-lagi tanpa ekspresi. Hanya isyarat.

Ia pernah bercinta dengan lilin. Penuh pengorbanan, setia, tahan lama. “Aku bosan pada cinta yang temaram.” Ia tampak pasrah. Lalu ketika nyala lilin itu musnah, kegelapan menghadirkan sesosok makhluk. Seseorang yang menyeruak perlahan dari onggokan kayu yang telah menjadi abu. Seseorang yang bergeming ketika kendaraan mulai melaju meninggalkan lampu merah yang telah berganti hijau. Seseorang yang menyisakan cahaya ketika lampu-lampu Natal telah disimpan. Seseorang yang dilukis langit ketika meriah kembang api telah usai.

“Kamu siapa?” ia bertanya

Makhluk itu tak menjawab. Hanya isyarat. Tanpa ekspresi.

“Kenapa kamu selalu mengikutiku?” ia bertanya lagi.

Makhluk itu tetap tak menjawab. Hanya isyarat. Tanpa ekspresi.

Sontak, makhluk itu menoleh menatapku. Aku tergeragap. Rasanya, aku mengenalnya.

Déjà vu …

Hening …

Makhluk itu berpaling. Berjalan menjauh. Samar, kudengar bisikan ‘anicca … anitya … wúcháng … mujō… ketak-kekalan’. Lalu makhluk itu ditelan molekul udara.

Déjà vu …

Hening …

Aku menjumpai kesendirian. Tak ada ‘ia’ yang bertanya. Tak ada ‘aku’ yang melihat.


Bandung, 10 Maret 2011


RITUS: Air yang (Berusaha) Menjelaskan Diri

10 gadis kecil berkostum putih-ungu menari dengan gerakan malu-malu di pojok panggung. Entah tamborin entah rebana, saya tak bisa membedakan, bergemerincing di tangan-tangan mungil mereka mengiringi puji-pujian yang dilangitkan jemaat kepada Yesus. Di pojok panggung yang lain, satu set alat musik: gitar, drum, dan keyboard dimainkan beberapa pemuda yang memandu 3 song leaders menyanyikan lagu-lagu yang bukan dari Kidung Jemaat, Mazmur, ataupun Nyanyian Rohani. Beberapa jemaat, bernyanyi sambil bertepuk tangan.

Tak ada yang aneh sebenarnya dari ‘penggalan’ kebaktian khusus Awal Tahun yang saya gambarkan di atas. Hal-hal serupa itu sudah sangat lazim dalam liturgi gereja Toraja, khususnya beberapa tahun belakangan. Namun menjadi menarik (buat saya) ketika membandingkannya dengan kondisi puluhan tahun lalu ketika saya masih ABG (meskipun saya masih tetap muda. :-p). Dulu, kidung-kidung pujian yang dinyanyikan dalam liturgi kebaktian hanya diambil dari 3 sumber: Kidung Jemaat, Mazmur, dan Nyanyian Rohani. Dulu, bertepuk tangan ketika bernyanyi dalam kebaktian dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Dulu, alat-alat musik sebagai pengiring pujian jemaat dianggap hanya ‘sah’ bagi Kristen aliran Pantekosta, Bethani, dan lain-lain. (Lain-lain alias tidak tahu).

Sepanjang kebaktian berlangsung, saya kemudian malah sibuk mengamati perubahan-perubahan ritus yang terjadi. Ada kegembiraan (kalau boleh dibilang begitu) sekaligus tanda tanya yang muncul di benak saya. Saya gembira karena paling tidak saya tidak perlu lagi bernyanyi dengan tempo yang terlalu lambat seperti dulu. Saya gembira karena buat saya bernyanyi sambil diiringi musik rasanya lebih enak dibandingkan acapella. Saya gembira karena lagu-lagu rohani yang dipopulerkan oleh Nikita, penyanyi bersuara sangat merdu itu kini bisa pula dilagukan pada kebaktian-kebaktian di gereja. Dan saya gembira sekaligus bertanya-tanya: apakah bernyanyi dengan cara seperti ini merepresentasikan kualitas keimanan yang lebih baik?

Menyoal ritus dan tradisi beragama, saya teringat seorang kawan yang beberapa tahun lalu pernah bertanya kepada saya: Benarkah Yesus itu lahir pada tanggal 25 Desember? Bukankah ‘Natal’ adalah tradisi Pagan yang diadaptasi oleh Kristen? Ketika itu, saya hanya menjawab ‘kurang tahu juga yah’ (karena memang saya tidak tahu jawabannya, :D). Beberapa tahun setelah itu, saya kemudian ‘bergumul’ dengan ritus dan tradisi-tradisi agama. Namun, jika pertanyaan teman saya tadi ditanyakan lagi kepada saya, maka jawaban saya pun rasanya tidak akan ‘lebih baik’. Kalau dulu saya akan menjawab ‘kurang tahu juga yah’ maka sekarang saya akan menjawab ‘emang kenapa?’.

Lalu saya teringat air. Ia bisa berfase padat, cair, atau uap mengikuti fungsi temperatur. Ia juga bisa berbentuk lonjong, bulat, atau tak bernama tergantung bentuk wadah yang menampungnya. Ia pun bisa dikenali sebagai air selokan, air sungai, atau air laut menurut tempatnya berada. Saya membayangkan bagaimana terkejutnya sebongkah es ketika bertemu dengan sekelompok uap air. Saya duga, ia akan melotot melihat uap air yang dengan begitu lincahnya menari dalam molekul udara. Lalu, ketika air selokan berjumpa dengan samudera, barangkali ia akan terbelalak dengan ukuran samudera yang seperti tak bertepi. (Dan mendadak hujan menjadi sangat deras).

Saya tak jadi menjawab pertanyaan tadi: adakah perubahan cara bernyanyi beserta lagu-lagunya mengindikasikan kualitas beriman yang lebih baik. Barangkali, saya pun tak perlu dan tak akan bisa menjawabnya hingga kapan pun. Seperti segelas kopi yang berusaha menjelaskan air tanpa pernah tahu bahwa dia ‘bersaudara’ dengan secangkir teh atau semug susu panas.

Lalu mendadak hujan berhenti yang membuat saya tak lagi tertarik melanjutkan tulisan ini. (Pembenaran sempurna bagi ide yang sudah enggan dijamah aksara, hehehe).
                                                                                                                                               

Selamat TAHUN BARU!

Tuesday, June 28, 2011

DEPENDENCE

I know I’m nothing
I know I’m aimless
I know I’m lost in direction
And I know you know I depend on you

I admit, I confess
I want you, I need you
And you know I know you’re dependable

But, if only you know it gets me more stunted
If only you feel it’s making me worthless
And if only you realize it deeply tortures me

I could hear the words you’ve always whispered
‘Follow your heart’, you said
I would already have tried it if only I was convinced enough
‘It’s ambiguous’, I said.

I’m dependent, you’re dependable.
Thank you, sorry, and I know you know we both know.


Rantepao, 30 June 2010

JENIUS

Dimensi jarak rasanya kian nisbi. Ribuan mil yang terpisah daratan dan lautan seolah tak lagi punya makna. Kecuali wujud fisik yang memang tak kasat mata di dalamnya, teknologi telah melontarkan manusia pada kenyataan yang kerap membuatku terperangah. Bahwa besaran jarak mendadak menjadi begitu relatif ketika berjumpa dengan teknologi bernama internet.

“Ini Ve yang alumnus SMU eX, yah?” begitu isi sebuah email yang kukirimkan pada seseorang, kira-kira 4 tahun lampau. Namanya kubaca sepintas lalu dalam sebuah milis di yahoo bernama Toraya. Menilik namanya, rasanya aku pernah mengenal seseorang dengan nama itu beberapa tahun sebelumnya. Tidak sealmamater tidak pula terlalu mengenalnya. Seingatku, kami hanya sekali bertemu lewat sebuah jejaring pertemanan. Salah satu teman SMU-nya adalah sepupuku, dan beberapa temannya adalah temanku juga. Suatu kali, ia mengunjungi temannya yang satu kampus denganku dan di situ lah kami berkenalan. Sebatas itu saja. Tak ada komunikasi lanjut sesudahnya, hingga pertemuan kami di milis itu bertahun-tahun kemudian.


Berawal dari email ‘konfirmasi’ yang kukirimkan itu, kami kemudian intens saling berbalas email. Awalnya hanya saling bertukar kabar dan mencari tahu keberadaan kawan-kawan kami yang lain, hingga kemudian berkembang ke tema-tema yang lebih ‘serius’ – mimpi, masa depan, dan asmara. Barangkali, untuk tema yang terakhir lebih tepat disebut curhat. Semuanya mengalir begitu saja. Tak ada rencana, tidak juga janjian. Tiba-tiba saja kami merasa nyaman untuk saling berbagi pengalaman-pengalaman hidup masing-masing. Tentang cinta, Tuhan, dan kehidupan.


Saat itu, ia tengah menjalani salah satu proses hidupnya dalam bentuk dan tempat yang bertahun-tahun silam menjadi impianku. Kuliah di luar negeri. Meski tak persis sama dengan tempat yang kuimpikan sedari kecil, bentuk hidup yang ia jalani menjadi sangat menarik bagiku. Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di University of Sydney di usia yang relatif masih muda. Sesuatu yang menahun menjadi mimpiku, meski tak persis sama dan hingga saat ini belum beranjak ke wujud nyata. Tapi, ada semacam antusiasme dalam diriku melihat mimpiku seperti terwujud melalui dirinya. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagiku dengan pencapaiannya itu. Setidaknya, aku boleh menitipkan mimpi pada mimpinya dengan apa yang sedang ia jalani.

Rasanya, aku adalah salah satu manusia yang paling beruntung di muka bumi ini. Aku dikelilingi orang-orang hebat yang boleh kusebut sebagai sahabat. Manusia-manusia luar biasa yang juga menyebutku sahabat. Mengenal dan mengakrabi mereka adalah kekuatan ketika aku lemah, sumber inspirasi ketika hidup mulai menjemukan, dan teman berbagi apa saja – kekalahan dan juga kemenangan. Perempuan ini adalah salah satunya.Aku tak tahu bagaimana mendefinisikan jenius ke dalam bahasa praktik. 

Aku tak mengenal Albert Einstein atau Isaac Newton, tak juga mengenal Mozart atau Beethoven, apalagi Adam Smith atau Keynes. Aku juga tak tahu berapa nilai TOEFL mereka dan bagaimana mereka berperilaku. Tapi, aku mengenal seseorang yang bagiku layak disebut jenius. Seorang perempuan dengan skor TOEFL 625 ketika pertama kali mengikutinya. Seorang perempuan yang berlangganan dengan nilai high distinctiondi sebuah universitas ternama di Australia untuk mayor Ilmu Ekonomi, yang menurut kawan-kawanku yang berkuliah di fakultas Ekonomi, adalah mayor yang paling susah. Seorang perempuan yang bolak-balik menjadi duta kampus ke berbagai belahan dunia. Dan, seorang perempuan yang senantiasa rendah hati dan tidak menjadi lupa diri dengan potensi luar biasa dalam dirinya.

“Kau memang sudah jenius dari kecil, yah?” Dengan ‘norak’-nya, aku menanyakan itu kepadanya dalam sebuah sesi chatting lewat Yahoo Messenger beberapa tahun lalu. Aku tak berlebihan, bukan? Dengan sederet pencapaian yang sudah ia raih di atas, kurasa tidaklah berlebihan kalau aku bilang seperti itu. Setidaknya menurut ukuranku. 

Ia tertawa (yang aku kenali dari ikon bundar berwarna kuning serupa kepala manusia dengan mulut membuka-tutup) kemudian mengetikkan balasan. “Gimana, yah? Aku tak merasa lahir jenius. Barangkali, aku hanya sedikit tekun dan selebihnya adalah berkat dari Tuhan.”

Aku mematung membaca pesannya, khususnya pada poin yang terakhir. Berkat Tuhan. Aku kerap membaca kisah-kisah orang ‘sukses’ yang menurut mereka adalah hasil dari kerja keras. Sebagian besarnya lagi mengedepankan mimpi dan ambisi (dalam pengertian yang positif) sebagai pemicunya. Namun, rasanya tak banyak yang melihatnya sebagai berkat dari Tuhan. Tentu, ketiga faktor tadi – kerja keras, mimpi, dan ambisi – tetap saja perlu demi mencapai ‘kesuksesan’, namun tambahan faktor keempat – berkat – menjadi sesuatu yang luar biasa. Bahwa ada kuasa yang senantiasa menaburkan benih-benih anugerah untuk bertumbuh dalam diri setiap pribadi. Lagi-lagi, aku merasa menjadi manusia paling beruntung di bumi ini. Aku tak perlu susah-susah mencari tempat berkaca untuk melihat indahnya hidup. Ada seseorang, yang bahkan boleh kusebut sahabat, yang selalu ada untuk menjadi cermin itu.

Beberapa jam yang lalu, kami (lagi-lagi) saling bertukar kabar lewat Yahoo Messenger. Saat ini, ia tengah berjuang melawan alergi dingin di suhu sekitar 10 derajat Celcius di Eropa sana. Ia diundang oleh pemerintah Jerman untuk mengikuti short course yang membawanya melintasi negeri-negeri bersalju mulai dari Jerman, Belanda, hingga Romania. Kami tertawa (meski tak saling melihat dan mendengar) ketika aku menuduhnya jarang mandi dalam kondisi cuaca sedingin itu. Juga ketika ia salah naik kereta ke Rotterdam padahal kota yang ditujunya adalah Den Haag.“

I don’t know. I think I am just blessed.” Begitu (lagi-lagi) ia menjawab ketika aku bertanya apa kira-kira yang membawanya pada hidupnya sekarang. “Dan, rasanya akan lebih indah jika capaian-capaian ini dirasakan dalam kebersamaan dengan sahabat-sahabat, dinikmati bersama-sama dengan berbagi.”


Di akhir ‘obrolan’ kami, ia menambahkan sebaris pesan yang tiba-tiba saja memburamkan pandangan mataku, “mengalami banyak perjalanan dan mengunjungi tempat-tempat yang jauh mengantarku pada kesadaran bahwa there’s no place like home.


”Untuk Ve, ‘kebersamaan’, semoga tak sanggup dibatasi oleh ruang. Berbagi kisah, barangkali adalah sebuah bentuk kebersamaan tersendiri yang tak terjamah dimensi.Always being proud to have you as a best friend of mine.

Bandung yang dingin, 17 Mei 2010, 1:41 am