I know I’m nothing
I know I’m aimless
I know I’m lost in direction
And I know you know I depend on you
I admit, I confess
I want you, I need you
And you know I know you’re dependable
But, if only you know it gets me more stunted
If only you feel it’s making me worthless
And if only you realize it deeply tortures me
I could hear the words you’ve always whispered
‘Follow your heart’, you said
I would already have tried it if only I was convinced enough
‘It’s ambiguous’, I said.
I’m dependent, you’re dependable.
Thank you, sorry, and I know you know we both know.
Rantepao, 30 June 2010
Tembuni of Rampa Maega
Ini adalah sebuah tembuni. Setiap tulisan mewakili penggalan kisah hidup (dalam urutan acak) yang menginspirasi atau paling tidak berkesan. Ibarat merunut setiap sel demi sel penyusun tembuni yang telah terurai habis dimakan mikroorganisme. Setiap perjalanan dan pencarian yang telah, sedang dan akan terjadi adalah usaha untuk menyatukannya menjadi utuh kembali.
Tuesday, June 28, 2011
JENIUS
Dimensi jarak rasanya kian nisbi. Ribuan mil yang terpisah daratan dan lautan seolah tak lagi punya makna. Kecuali wujud fisik yang memang tak kasat mata di dalamnya, teknologi telah melontarkan manusia pada kenyataan yang kerap membuatku terperangah. Bahwa besaran jarak mendadak menjadi begitu relatif ketika berjumpa dengan teknologi bernama internet.
“Ini Ve yang alumnus SMU eX, yah?” begitu isi sebuah email yang kukirimkan pada seseorang, kira-kira 4 tahun lampau. Namanya kubaca sepintas lalu dalam sebuah milis di yahoo bernama Toraya. Menilik namanya, rasanya aku pernah mengenal seseorang dengan nama itu beberapa tahun sebelumnya. Tidak sealmamater tidak pula terlalu mengenalnya. Seingatku, kami hanya sekali bertemu lewat sebuah jejaring pertemanan. Salah satu teman SMU-nya adalah sepupuku, dan beberapa temannya adalah temanku juga. Suatu kali, ia mengunjungi temannya yang satu kampus denganku dan di situ lah kami berkenalan. Sebatas itu saja. Tak ada komunikasi lanjut sesudahnya, hingga pertemuan kami di milis itu bertahun-tahun kemudian.
Berawal dari email ‘konfirmasi’ yang kukirimkan itu, kami kemudian intens saling berbalas email. Awalnya hanya saling bertukar kabar dan mencari tahu keberadaan kawan-kawan kami yang lain, hingga kemudian berkembang ke tema-tema yang lebih ‘serius’ – mimpi, masa depan, dan asmara. Barangkali, untuk tema yang terakhir lebih tepat disebut curhat. Semuanya mengalir begitu saja. Tak ada rencana, tidak juga janjian. Tiba-tiba saja kami merasa nyaman untuk saling berbagi pengalaman-pengalaman hidup masing-masing. Tentang cinta, Tuhan, dan kehidupan.
Saat itu, ia tengah menjalani salah satu proses hidupnya dalam bentuk dan tempat yang bertahun-tahun silam menjadi impianku. Kuliah di luar negeri. Meski tak persis sama dengan tempat yang kuimpikan sedari kecil, bentuk hidup yang ia jalani menjadi sangat menarik bagiku. Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di University of Sydney di usia yang relatif masih muda. Sesuatu yang menahun menjadi mimpiku, meski tak persis sama dan hingga saat ini belum beranjak ke wujud nyata. Tapi, ada semacam antusiasme dalam diriku melihat mimpiku seperti terwujud melalui dirinya. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagiku dengan pencapaiannya itu. Setidaknya, aku boleh menitipkan mimpi pada mimpinya dengan apa yang sedang ia jalani.
Rasanya, aku adalah salah satu manusia yang paling beruntung di muka bumi ini. Aku dikelilingi orang-orang hebat yang boleh kusebut sebagai sahabat. Manusia-manusia luar biasa yang juga menyebutku sahabat. Mengenal dan mengakrabi mereka adalah kekuatan ketika aku lemah, sumber inspirasi ketika hidup mulai menjemukan, dan teman berbagi apa saja – kekalahan dan juga kemenangan. Perempuan ini adalah salah satunya.Aku tak tahu bagaimana mendefinisikan jenius ke dalam bahasa praktik.
Aku tak mengenal Albert Einstein atau Isaac Newton, tak juga mengenal Mozart atau Beethoven, apalagi Adam Smith atau Keynes. Aku juga tak tahu berapa nilai TOEFL mereka dan bagaimana mereka berperilaku. Tapi, aku mengenal seseorang yang bagiku layak disebut jenius. Seorang perempuan dengan skor TOEFL 625 ketika pertama kali mengikutinya. Seorang perempuan yang berlangganan dengan nilai high distinctiondi sebuah universitas ternama di Australia untuk mayor Ilmu Ekonomi, yang menurut kawan-kawanku yang berkuliah di fakultas Ekonomi, adalah mayor yang paling susah. Seorang perempuan yang bolak-balik menjadi duta kampus ke berbagai belahan dunia. Dan, seorang perempuan yang senantiasa rendah hati dan tidak menjadi lupa diri dengan potensi luar biasa dalam dirinya.
“Kau memang sudah jenius dari kecil, yah?” Dengan ‘norak’-nya, aku menanyakan itu kepadanya dalam sebuah sesi chatting lewat Yahoo Messenger beberapa tahun lalu. Aku tak berlebihan, bukan? Dengan sederet pencapaian yang sudah ia raih di atas, kurasa tidaklah berlebihan kalau aku bilang seperti itu. Setidaknya menurut ukuranku.
Ia tertawa (yang aku kenali dari ikon bundar berwarna kuning serupa kepala manusia dengan mulut membuka-tutup) kemudian mengetikkan balasan. “Gimana, yah? Aku tak merasa lahir jenius. Barangkali, aku hanya sedikit tekun dan selebihnya adalah berkat dari Tuhan.”
Aku mematung membaca pesannya, khususnya pada poin yang terakhir. Berkat Tuhan. Aku kerap membaca kisah-kisah orang ‘sukses’ yang menurut mereka adalah hasil dari kerja keras. Sebagian besarnya lagi mengedepankan mimpi dan ambisi (dalam pengertian yang positif) sebagai pemicunya. Namun, rasanya tak banyak yang melihatnya sebagai berkat dari Tuhan. Tentu, ketiga faktor tadi – kerja keras, mimpi, dan ambisi – tetap saja perlu demi mencapai ‘kesuksesan’, namun tambahan faktor keempat – berkat – menjadi sesuatu yang luar biasa. Bahwa ada kuasa yang senantiasa menaburkan benih-benih anugerah untuk bertumbuh dalam diri setiap pribadi. Lagi-lagi, aku merasa menjadi manusia paling beruntung di bumi ini. Aku tak perlu susah-susah mencari tempat berkaca untuk melihat indahnya hidup. Ada seseorang, yang bahkan boleh kusebut sahabat, yang selalu ada untuk menjadi cermin itu.
Beberapa jam yang lalu, kami (lagi-lagi) saling bertukar kabar lewat Yahoo Messenger. Saat ini, ia tengah berjuang melawan alergi dingin di suhu sekitar 10 derajat Celcius di Eropa sana. Ia diundang oleh pemerintah Jerman untuk mengikuti short course yang membawanya melintasi negeri-negeri bersalju mulai dari Jerman, Belanda, hingga Romania. Kami tertawa (meski tak saling melihat dan mendengar) ketika aku menuduhnya jarang mandi dalam kondisi cuaca sedingin itu. Juga ketika ia salah naik kereta ke Rotterdam padahal kota yang ditujunya adalah Den Haag.“
I don’t know. I think I am just blessed.” Begitu (lagi-lagi) ia menjawab ketika aku bertanya apa kira-kira yang membawanya pada hidupnya sekarang. “Dan, rasanya akan lebih indah jika capaian-capaian ini dirasakan dalam kebersamaan dengan sahabat-sahabat, dinikmati bersama-sama dengan berbagi.”
Di akhir ‘obrolan’ kami, ia menambahkan sebaris pesan yang tiba-tiba saja memburamkan pandangan mataku, “mengalami banyak perjalanan dan mengunjungi tempat-tempat yang jauh mengantarku pada kesadaran bahwa there’s no place like home.
”Untuk Ve, ‘kebersamaan’, semoga tak sanggup dibatasi oleh ruang. Berbagi kisah, barangkali adalah sebuah bentuk kebersamaan tersendiri yang tak terjamah dimensi.Always being proud to have you as a best friend of mine.
Bandung yang dingin, 17 Mei 2010, 1:41 am
Labels:
friendship
Friday, February 4, 2011
BUKAN MATAHARI, BUKAN PULA HUJAN
Matahari tak pernah menyembunyikan cahaya. Tak pernah hanya menyinari orang-orang baik lalu menutup diri kepada orang-orang jahat. Ia memberi energi agar tumbuhan bisa berfotosintesis, bahkan kepada yang tidak membutuhkannya. Tapi, pernahkah ia tahu kalau ia berkontribusi terhadap kekeringan yang terjadi di mana-mana? Pernahkah ia berpikir kalau energinya yang berlebihan membuat klorofil tak lagi hijau?
Hujan tak pernah memilih. Tak pernah hanya mengisi sumur-sumur orang baik lalu membiarkan sumur-sumur orang jahat kering sepanjang masa. Ia menjadi sumber makanan bagi semua tumbuhan, bahkan bagi kaktus yang tak butuh terlalu banyak air. Tapi, pernahkah ia tahu kalau seseorang telah kehilangan pekerjaannya karena lupa mengangkat cucian yang kehujanan? Pernahkah ia peduli ketika seseorang diputuskan pacarnya hanya karena membatalkan janji kencan dengan alasan hujan?
Matahari mungkin tak salah. Hujan mungkin tak keliru. Mereka hanya memberi apa yang mereka punya. Sesuatu yang barangkali mereka anggap cinta dan kasih sayang. Tapi, kau bukan matahari, bukan pula hujan. Kau manusia yang punya akal, logika, dan perasaan. Cintamu barangkali analog dengan cinta matahari dan hujan kepada bumi, namun tetap saja kau bukan matahari, bukan pula hujan.
Friday, May 7, 2010
MENGAPA JINGGA
Mengapa jingga jika merah adalah spektrum dengan lambda terbesar?
Aku tak pernah tahu apa yang mereka sebut ‘hidup yang berwarna’. Kecuali jika hidup yang terus berganti – kadang senang, sedih, atau biasa-biasa saja – yang mereka maksud, maka barangkali aku tahu sedikit seperti apa hidup yang berwarna itu. Bahwa hidup tak melulu bahagia, tak juga selalu menderita. Keduanya datang bergantian atau kadang bersamaan hingga hidup menjadi biasa-biasa saja.
Namun, ketika warna-warna menjadi representasi hidup, aku benar-benar tak paham lagi. Mereka menyebut hitam ketika menunjuk kepada hidup yang menurut mereka tidak sejalan dengan norma hidup yang baik. Ilmu hitam, golongan hitam, dan entah apa lagi. Sementara, mereka juga bilang kalau hitam adalah simbol untuk sesuatu yang elegan dan berprinsip. Jadi, apakah ilmu dan golongan hitam kemudian menjadi sama dengan sesuatu yang elegan dan berprinsip? Barangkali iya. Karena ini bukan tentang baik-buruk atau benar-salah.
Ada juga yang mengatakan biru sebagai warna hati yang sedih padahal setahuku hati berwarna merah kecoklatan. Mengharu biru, katanya. Sementara, ia berkali-kali bilang bahwa biru itu seksi dan romantis. Apakah ia mau bilang kalau sedih itu seksi dan romantis? Bisa jadi. Lagi-lagi karena ini bukan tentang baik-buruk atau benar-salah.
Lalu, adakah hidup yang disebut jingga?
Mengapa jingga menjadi warna matahari tiap kali siang mengawali dan mengakhiri durasinya?
Aku tak pernah tahu apa yang menunggu di setiap ujung perjalanan. Sama tak tahunya berapa besaran jarak dan waktu untuk setiap perjalanan itu. Kecuali bahwa setiap perjalanan punya awal dan akhir, aku tak benar-benar paham ada misteri apa di dalam setiap perjalanan.
Jangan bertanya padaku ‘tinggal di mana?’. Bukan karena aku tak mau memberi tahu atau khawatir suatu saat kau mendatangiku, tapi sungguh aku bingung bagaimana harus menjawabmu. Dalam 5 tahun terakhir, aku menjadi bias dengan definisi ‘tempat tinggal’. Setidaknya, ada 4 nama tempat berbeda yang akan aku sebutkan untuk menjawab pertanyaanmu tadi. Itupun bergantung pada pengertianmu tentang tempat tinggal. Jika yang kaumaksud adalah tempat di mana harta bendaku – yang kupahami sebagai pakaian dan buku-buku – berada, maka Toraja, Balikpapan, dan Bandung adalah jawabannya. Jika tempat tinggal bagimu adalah tempat di mana kau kerap melewatkan malam-malammu untuk tidur, maka Salatiga akan menambah ketiga nama tempat tadi. Namun, jika kau bertanya tentang tempat yang selalu membuatku ingin kembali, maka Toraja, Salatiga, dan Bandung adalah jawabannya. Memilih satu di antara keempat tempat tadi selalu membuatku bingung. Dan, barangkali akan aneh jika kujawab keempat-empatnya sekaligus tanpa memberimu sedikit penjelasan.
Tak pernah aku menyengaja untuk menjadi ‘nomad’ seperti itu. Bukan pula untuk gagah-gagahan biar dibilang keren. Sama sekali tidak. Bukankah sejarah peradaban manusia bergerak dari nomaden menjadi menetap? Yang kalau boleh disimpulkan bahwa menetap adalah lebih baik daripada berpindah-pindah? Hidup serupa ini adalah konsekuensi dari perkawinan antara mimpi dan realita. Tentu saja ada pilihan-pilihan di dalamnya, namun bukankah pilihan selalu disertai konsekuensi? Dan hingga detik ini, aku tak tahu pasti pilihan mana yang berkonsekuensi paling ‘menguntungkan’.
Mengapa jingga dipilih sebagai warna baju pelampung dan tanda penunjuk jalan pengganti lampu?
Dulu, aku tak pernah suka dengan perjalanan. Duduk berjam-jam di dalam bis atau mobil melintasi jalan darat adalah serupa neraka bagiku. Aku (dulu) sangat bermasalah dengan aroma solar dan bensin. Kau tahulah maksudku. Kadang, ingin rasanya bis yang kutumpangi mengalami tabrakan atau kerusakan parah hingga perjalanan bisa segera berakhir. Untungnya, harapan sintingku itu tak pernah terwujud. Berjam-jam sebelum memulai perjalanan pun, rasanya sudah ingin muntah mengeluarkan semua isi perut. Tentu saja tidak termasuk organ-organ tubuh di dalamnya. Dan, aku masih harus tersiksa berhari-hari sesudah perjalanan itu benar-benar berakhir untuk memulihkan lambung yang mendadak tak mau kompromi menerima sembarang makanan dan minuman.
Kini, perjalanan darat adalah serupa surga. Kesempatan bagiku untuk menciptakan dunia sendiri, entah kaubilang mengkhayal, merenung, atau mencari inspirasi. Intinya, aku (kini) sangat menikmati setiap kali memandangi pepohonan yang seolah berlarian di sepanjang tepi jalan, apalagi jika diiringi hujan yang bermarathon.
Aku tak pernah tahu ke mana perjalanan ini akhirnya akan membawaku. Selain bahwa rute yang kutempuh bolak-balik itu selalu hampir sama, aku tak benar-benar paham mengapa setiap perjalanan itu selalu berbeda.
Puluhan – bahkan mungkin ratusan – jingga telah dan akan kusaksikan dalam setiap perjalanan. Jingga penanda fajar dan petang, jingga yang seberkas dan yang bertumpuk-tumpuk, jingga yang tertusuk puncak-puncak gunung, yang menyelimuti pepohonan atau gemawan, dan jingga dalam rupa-rupa yang lain. Selalu tak pernah kongruen, namun selalu pula ia ada. Seolah ingin berbahasa bahwa ia lah warna yang terlihat paling terang dalam kegelapan, seperti alasan mengapa baju pelampung dan tanda penunjuk jalan memilihnya. Dan untuk alasan yang sama pula matahari memilih jingga untuk fajar dan petang.
Bandung, 7 Mei 2010
Aku tak pernah tahu apa yang mereka sebut ‘hidup yang berwarna’. Kecuali jika hidup yang terus berganti – kadang senang, sedih, atau biasa-biasa saja – yang mereka maksud, maka barangkali aku tahu sedikit seperti apa hidup yang berwarna itu. Bahwa hidup tak melulu bahagia, tak juga selalu menderita. Keduanya datang bergantian atau kadang bersamaan hingga hidup menjadi biasa-biasa saja.
Namun, ketika warna-warna menjadi representasi hidup, aku benar-benar tak paham lagi. Mereka menyebut hitam ketika menunjuk kepada hidup yang menurut mereka tidak sejalan dengan norma hidup yang baik. Ilmu hitam, golongan hitam, dan entah apa lagi. Sementara, mereka juga bilang kalau hitam adalah simbol untuk sesuatu yang elegan dan berprinsip. Jadi, apakah ilmu dan golongan hitam kemudian menjadi sama dengan sesuatu yang elegan dan berprinsip? Barangkali iya. Karena ini bukan tentang baik-buruk atau benar-salah.
Ada juga yang mengatakan biru sebagai warna hati yang sedih padahal setahuku hati berwarna merah kecoklatan. Mengharu biru, katanya. Sementara, ia berkali-kali bilang bahwa biru itu seksi dan romantis. Apakah ia mau bilang kalau sedih itu seksi dan romantis? Bisa jadi. Lagi-lagi karena ini bukan tentang baik-buruk atau benar-salah.
Lalu, adakah hidup yang disebut jingga?
∞∞∞∞∞
Mengapa jingga menjadi warna matahari tiap kali siang mengawali dan mengakhiri durasinya?
Aku tak pernah tahu apa yang menunggu di setiap ujung perjalanan. Sama tak tahunya berapa besaran jarak dan waktu untuk setiap perjalanan itu. Kecuali bahwa setiap perjalanan punya awal dan akhir, aku tak benar-benar paham ada misteri apa di dalam setiap perjalanan.
Jangan bertanya padaku ‘tinggal di mana?’. Bukan karena aku tak mau memberi tahu atau khawatir suatu saat kau mendatangiku, tapi sungguh aku bingung bagaimana harus menjawabmu. Dalam 5 tahun terakhir, aku menjadi bias dengan definisi ‘tempat tinggal’. Setidaknya, ada 4 nama tempat berbeda yang akan aku sebutkan untuk menjawab pertanyaanmu tadi. Itupun bergantung pada pengertianmu tentang tempat tinggal. Jika yang kaumaksud adalah tempat di mana harta bendaku – yang kupahami sebagai pakaian dan buku-buku – berada, maka Toraja, Balikpapan, dan Bandung adalah jawabannya. Jika tempat tinggal bagimu adalah tempat di mana kau kerap melewatkan malam-malammu untuk tidur, maka Salatiga akan menambah ketiga nama tempat tadi. Namun, jika kau bertanya tentang tempat yang selalu membuatku ingin kembali, maka Toraja, Salatiga, dan Bandung adalah jawabannya. Memilih satu di antara keempat tempat tadi selalu membuatku bingung. Dan, barangkali akan aneh jika kujawab keempat-empatnya sekaligus tanpa memberimu sedikit penjelasan.
Tak pernah aku menyengaja untuk menjadi ‘nomad’ seperti itu. Bukan pula untuk gagah-gagahan biar dibilang keren. Sama sekali tidak. Bukankah sejarah peradaban manusia bergerak dari nomaden menjadi menetap? Yang kalau boleh disimpulkan bahwa menetap adalah lebih baik daripada berpindah-pindah? Hidup serupa ini adalah konsekuensi dari perkawinan antara mimpi dan realita. Tentu saja ada pilihan-pilihan di dalamnya, namun bukankah pilihan selalu disertai konsekuensi? Dan hingga detik ini, aku tak tahu pasti pilihan mana yang berkonsekuensi paling ‘menguntungkan’.
∞∞∞∞∞
Mengapa jingga dipilih sebagai warna baju pelampung dan tanda penunjuk jalan pengganti lampu?
Dulu, aku tak pernah suka dengan perjalanan. Duduk berjam-jam di dalam bis atau mobil melintasi jalan darat adalah serupa neraka bagiku. Aku (dulu) sangat bermasalah dengan aroma solar dan bensin. Kau tahulah maksudku. Kadang, ingin rasanya bis yang kutumpangi mengalami tabrakan atau kerusakan parah hingga perjalanan bisa segera berakhir. Untungnya, harapan sintingku itu tak pernah terwujud. Berjam-jam sebelum memulai perjalanan pun, rasanya sudah ingin muntah mengeluarkan semua isi perut. Tentu saja tidak termasuk organ-organ tubuh di dalamnya. Dan, aku masih harus tersiksa berhari-hari sesudah perjalanan itu benar-benar berakhir untuk memulihkan lambung yang mendadak tak mau kompromi menerima sembarang makanan dan minuman.
Kini, perjalanan darat adalah serupa surga. Kesempatan bagiku untuk menciptakan dunia sendiri, entah kaubilang mengkhayal, merenung, atau mencari inspirasi. Intinya, aku (kini) sangat menikmati setiap kali memandangi pepohonan yang seolah berlarian di sepanjang tepi jalan, apalagi jika diiringi hujan yang bermarathon.
Aku tak pernah tahu ke mana perjalanan ini akhirnya akan membawaku. Selain bahwa rute yang kutempuh bolak-balik itu selalu hampir sama, aku tak benar-benar paham mengapa setiap perjalanan itu selalu berbeda.
∞∞∞∞∞
Puluhan – bahkan mungkin ratusan – jingga telah dan akan kusaksikan dalam setiap perjalanan. Jingga penanda fajar dan petang, jingga yang seberkas dan yang bertumpuk-tumpuk, jingga yang tertusuk puncak-puncak gunung, yang menyelimuti pepohonan atau gemawan, dan jingga dalam rupa-rupa yang lain. Selalu tak pernah kongruen, namun selalu pula ia ada. Seolah ingin berbahasa bahwa ia lah warna yang terlihat paling terang dalam kegelapan, seperti alasan mengapa baju pelampung dan tanda penunjuk jalan memilihnya. Dan untuk alasan yang sama pula matahari memilih jingga untuk fajar dan petang.
Bandung, 7 Mei 2010
Friday, April 30, 2010
ABU-ABU
Apa hakmu menyebut Euglena viridis sebagai binatang?
Hanya karena selembar flagel di ujung anteriornya hingga ia motil?
Lalu kau sebut apa kloroplasnya?
Sekadar pelengkap?
Sejak kapan binatang bisa berfotosintesis?
Mungkin kita sama-sama sok tahunya, tapi aku lebih memilih menyebutnya makhluk hidup saja.
Entah binatang entah tumbuhan.
Apa kuasamu mengatakan virus sebagai benda hidup?
Hanya karena ia bisa berkembang biak atau kawin-mawin dalam istilah spesiesmu?
Lalu kau apakan kemampuannya dipanaskan hingga ratusan derajat Celcius?
Sejak kapan benda hidup sanggup dikristalkan?
Mungkin kita memang sok tahu, tapi aku lebih memilih menyebutnya benda saja.
Entah benda hidup entah benda mati.
Pilih satu! Abu-abu. Hitam atau putih?
Kau bilang dua-duanya sekaligus tidak keduanya.
Itu dia!
Bukan hitam bukan putih tapi abu-abu.
Dan, dia ada.
MUTIARA #129, 29 April 2010
Hanya karena selembar flagel di ujung anteriornya hingga ia motil?
Lalu kau sebut apa kloroplasnya?
Sekadar pelengkap?
Sejak kapan binatang bisa berfotosintesis?
Mungkin kita sama-sama sok tahunya, tapi aku lebih memilih menyebutnya makhluk hidup saja.
Entah binatang entah tumbuhan.
Apa kuasamu mengatakan virus sebagai benda hidup?
Hanya karena ia bisa berkembang biak atau kawin-mawin dalam istilah spesiesmu?
Lalu kau apakan kemampuannya dipanaskan hingga ratusan derajat Celcius?
Sejak kapan benda hidup sanggup dikristalkan?
Mungkin kita memang sok tahu, tapi aku lebih memilih menyebutnya benda saja.
Entah benda hidup entah benda mati.
Pilih satu! Abu-abu. Hitam atau putih?
Kau bilang dua-duanya sekaligus tidak keduanya.
Itu dia!
Bukan hitam bukan putih tapi abu-abu.
Dan, dia ada.
MUTIARA #129, 29 April 2010
Monday, April 19, 2010
ROMANSA SIKLUS
Semua masih sama rupanya, Kawan!
Jalanan ini masih 5 warna: merah, kuning, ungu, coklat, dan hitam yang saling menindih dan berdempet satu dengan yang lain. Seperti yang dulu, kelimanya masih 3 unsur: lempung, pasir, dan batubara. Licin dan berlumpur di waktu hujan, kering dan berdebu kalau kemarau. Pipa-pipa panjang masih kokoh melintang di sana, meliuk-liuk menjejeri jalanan 5 warna tadi, membelah nipah, jati, ulin, dan entah apa lagi namanya. 5 tahun dan semuanya masih sama.
Delta Mahakam masih bernyamuk, bermonyet, dan berbuaya. Seperti yang dulu, menara-menara rig masih berdiri angkuh di tengah belantara Borneo. Menjejalkan pipa-pipa besi hinga ribuan kaki menembus bumi lalu pindah ke tempat lain untuk tujuan yang sama. Bising mesin-mesin sekian desibel masih memekakkan telinga, lumpur-lumpur Kimia masih gatal dan panas. 5 tahun, Kawan! dan masih sama.
Ranger putih bergaris merah masih rutin mengantar-jemput kita setiap 2 minggu sekali, kadang kurang lebih sering lebih. Tas-tas besar masih setia menemani kita melewati rute yang sama tanpa pernah bertanya, ‘ngapain sih kamu bolak-balik melulu?’ Dan, seperti yang dulu juga, pertanyaan favorit mereka masih yang itu-itu juga, “berapa berat lumpur sekarang?”
Kawan,
Kita serupa molekul air yang terjerat dalam siklus abadi. Mengalir ke tempat yang lebih rendah, menguap ke atmosfer, berkumpul menjadi kumulus, lalu tercurah ke bumi menjadi hujan. Dan barangkali, serupa pula dengan elektron yang ajeg mengedari inti atom dalam orbitalnya masing-masing. Membosankan, bukan?
Aku bertanya kepada air. Adakah ia ingin keluar dari siklusnya menjadi hujan? Adakah ia memilih ketika ikan-ikan ‘meminumnya’ hingga menyatu dengan dagingnya lalu tertangkap oleh jala nelayan untuk kemudian terhidang di meja makan? Sayangnya, aku tak mengerti bahasa air.
Aku lalu bertanya kepada elektron. Adakah ia ingin melompat dari orbitalnya? Adakah ia memilih ketika sejumlah energi membuatnya tereksitasi ke orbital yang lain? Sayangnya lagi, suaranya terlalu mikro hingga aku tak mendengarnya bahkan ketika ia berteriak sekalipun.
Tapi Kawan,
Entahkah air dan elektron itu bosan atau tidak, memilih kah atau tidak, aku percaya selalu ada pilihan untuk direnungkan. Pilihan-pilihan yang barangali tak perlu konsep lompatan kuantum untuk menjelaskannya, namun selalu disediakan oleh hidup.
Dan di sinilah aku berada, pada sebuah titik dalam siklus hidup ketika matahari sedang menuju ke kematian semunya. Larut ke dalam euforia jingga yang kemilau di antara ratusan manusia yang entah datang dari mana dan pergi ke mana. Mencoba mencumbui hidup yang gemar berteka-teki.
Kawan,
Dalam setiap menit yang kita habiskan melintasi stratosfer, setiap kilometer yang kita lewati melindasi pesisir timur Kalimantan, setiap kesempatan yang hilang bersama orang-orang tercinta, dan setiap peluh yang kita teteskan untuk membuka-tutup katup-katup dan menuangkan ribuan pon butiran bahan Kimia ke dalam tangki, ada keindahan yang ditawarkan hidup untuk kita nikmati. Keindahan berwujud siklus dengan 360 sisi untuk diselami.
Bandung, 19 April 2010.
Jalanan ini masih 5 warna: merah, kuning, ungu, coklat, dan hitam yang saling menindih dan berdempet satu dengan yang lain. Seperti yang dulu, kelimanya masih 3 unsur: lempung, pasir, dan batubara. Licin dan berlumpur di waktu hujan, kering dan berdebu kalau kemarau. Pipa-pipa panjang masih kokoh melintang di sana, meliuk-liuk menjejeri jalanan 5 warna tadi, membelah nipah, jati, ulin, dan entah apa lagi namanya. 5 tahun dan semuanya masih sama.
Delta Mahakam masih bernyamuk, bermonyet, dan berbuaya. Seperti yang dulu, menara-menara rig masih berdiri angkuh di tengah belantara Borneo. Menjejalkan pipa-pipa besi hinga ribuan kaki menembus bumi lalu pindah ke tempat lain untuk tujuan yang sama. Bising mesin-mesin sekian desibel masih memekakkan telinga, lumpur-lumpur Kimia masih gatal dan panas. 5 tahun, Kawan! dan masih sama.
Ranger putih bergaris merah masih rutin mengantar-jemput kita setiap 2 minggu sekali, kadang kurang lebih sering lebih. Tas-tas besar masih setia menemani kita melewati rute yang sama tanpa pernah bertanya, ‘ngapain sih kamu bolak-balik melulu?’ Dan, seperti yang dulu juga, pertanyaan favorit mereka masih yang itu-itu juga, “berapa berat lumpur sekarang?”
Kawan,
Kita serupa molekul air yang terjerat dalam siklus abadi. Mengalir ke tempat yang lebih rendah, menguap ke atmosfer, berkumpul menjadi kumulus, lalu tercurah ke bumi menjadi hujan. Dan barangkali, serupa pula dengan elektron yang ajeg mengedari inti atom dalam orbitalnya masing-masing. Membosankan, bukan?
Aku bertanya kepada air. Adakah ia ingin keluar dari siklusnya menjadi hujan? Adakah ia memilih ketika ikan-ikan ‘meminumnya’ hingga menyatu dengan dagingnya lalu tertangkap oleh jala nelayan untuk kemudian terhidang di meja makan? Sayangnya, aku tak mengerti bahasa air.
Aku lalu bertanya kepada elektron. Adakah ia ingin melompat dari orbitalnya? Adakah ia memilih ketika sejumlah energi membuatnya tereksitasi ke orbital yang lain? Sayangnya lagi, suaranya terlalu mikro hingga aku tak mendengarnya bahkan ketika ia berteriak sekalipun.
Tapi Kawan,
Entahkah air dan elektron itu bosan atau tidak, memilih kah atau tidak, aku percaya selalu ada pilihan untuk direnungkan. Pilihan-pilihan yang barangali tak perlu konsep lompatan kuantum untuk menjelaskannya, namun selalu disediakan oleh hidup.
Dan di sinilah aku berada, pada sebuah titik dalam siklus hidup ketika matahari sedang menuju ke kematian semunya. Larut ke dalam euforia jingga yang kemilau di antara ratusan manusia yang entah datang dari mana dan pergi ke mana. Mencoba mencumbui hidup yang gemar berteka-teki.
Kawan,
Dalam setiap menit yang kita habiskan melintasi stratosfer, setiap kilometer yang kita lewati melindasi pesisir timur Kalimantan, setiap kesempatan yang hilang bersama orang-orang tercinta, dan setiap peluh yang kita teteskan untuk membuka-tutup katup-katup dan menuangkan ribuan pon butiran bahan Kimia ke dalam tangki, ada keindahan yang ditawarkan hidup untuk kita nikmati. Keindahan berwujud siklus dengan 360 sisi untuk diselami.
Bandung, 19 April 2010.
Thursday, April 8, 2010
HITAM
Semua monokrom kauserap musnah.
Maumu apa?
Dominasi?
Kekuasaaan absolut?
Entah!
Namun, tetap saja aku takluk. Bukan kalah, tapi karena aku mau.
Lambda merah taklagi beda dengan biru.
Inginmu apa?
Kepunahan mejikuhibiniu?
Kekasipan pelangi?
Aku tak tahu.
Namun, tetap saja aku manut. Bukan kemenyerahan, tapi karena bianglala memang punya durasi.
Kautangkapi semua sinar menjelma kegelapan.
Apa yang kausembunyikan?
Intan berlian?
Atau malah taik penuh belatung?
Persetan!
Namun, tetap saja aku ingin tahu. Kuakui, gelapmu memesona.
Hadirmu mengokohkan relativitas.
Kaunisbikan batasan stereotipe.
Siapa kau sebenarnya?
Platonik?
Eros?
Philea?
Agape?
Aku taklagi peduli
Anjing! Tetap saja aku cinta.
Salatiga, 8 April 2010; 00:00 ketika hitam begitu memesona
Subscribe to:
Posts (Atom)

