Thursday, April 8, 2010

UNTUK SEPENGGAL MALAM

Untuk sepenggal malam ditemani serbuk tembakau yang terbakar menjadi asap yang menghancurkan paru-paru, ketika hati mewujud aksara dan dunia menjelma kata-kata.

Kaubilang cinta tak butuh alasan. “Cinta ya… cinta aja. Pokoknya gitu lah.” Wajahmu kebingungan mencari ekspresi, sedikit malu-malu, dan salah tingkah. Kepalamu menggeleng, barangkali untuk menafikan rasa yang taksanggup kaujamah dengan logika. Senyummu melengkung, mungkin untuk menertawai ‘kebodohan’-mu sendiri.

Aku melarut dalam rasa ingin tahu. Gesturmu misterius entah ingin menjelaskan apa. Ketika cinta takbutuh dijelaskan, lalu apa? Titik. Selesai. Takada lagi penjelasan. Kaupaham ya syukur, nggak ngerti pun ya terserah. Begitu mungkin arti senyummu.

Kaubilang kisahnya sudah selesai. “Sudah ah! Kenapa sih tanya-tanya?” Bibirmu manyun membahasakan ketaknyamanan. Kaumerasa terintimidasi. Seperti ada desakan dalam setiap pertanyaanku yang membuatmu mengerutkan kening.

‘Kebodohan’-mu menulariku. Aku pun tak punya penjelasan untuk apa aku bertanya. Seperti cinta yang kaubilang tak butuh alasan, pertanyaan pun barangkali juga tak butuh alasan. Bukan bahwa kemudian cinta menjadi sama dengan pertanyaan, namun seberapa kontekstualkah alasanku bertanya? Mungkin cukup jika kubilang ‘ingin tahu aja’.

Untuk sepenggal malam yang ditelusupi angin dingin yang menusuk tulang, ketika memori diputar kembali dan masa lalu berjumpa kekinian.

Kaubilang cinta tak berbanding lurus dengan kebersamaan. Mengisahkan masa lalu tentangnya sama saja dengan mengorek luka lama yang telah susah payah kautransformasi menjadi keikhlasan. Luka yang kausembunyikan di sebalik senyummu, yang juga masih menyemburatkan sisa-sisa rindumu padanya.

Aku bilang mencinta adalah melepaskan. Ketika rasa sakit sanggup terlisan, keikhlasan akan mengganti selapis demi selapis. Kau sepakat ketika kubilang menikmati sakit hati itu indah, khususnya bagi manusia yang katanya bertipe melankolis.

Kaubilang urusan hati bukan perkara mudah. Memahami sesuatu yang tak pernah gamblang terjelaskan hanya sanggup membuatmu membaca isyarat. Sesuatu yang memenjarakanmu dalam tanya yang takpernah sanggup kaujawab sendiri.

Aku protes. “Segitu doang perjuanganmu?” Bagiku, begitu bodohnya kau rela pasrah dalam sesuatu yang takpernah kautahu pasti apa, sementara jiwamu berteriak-teriak meminta jawaban.

“Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kuperjuangkan.” Kau bereaksi dengan mata mengawan. Tak ada kesedihan di sana, pun takada kemenyerahan. Sesuatu yang kemudian kupahami sungguh takmudah bagimu.

Untuk sepenggal malam yang diintipi ketakutan, ketika gelap semakin pekat dan dini hari mendekati ujung durasi. 

Ada yang bilang laki-laki hanya satu kali jatuh cinta. Yang sebelum dan sesudahnya hanyalah bayang-bayang. Aku taktahu sudahkah kaujatuh cinta untuk yang sekali itu, ataukah kelak kauakan jatuh cinta lagi hingga teori itu terpatahkan. Ada ketakutan dalam pandangan matamu.

Suara adzan dari masjid mulai menggema. Seperti subuh yang segera akan terganti pagi, barangkali durasimu dengannya memang telah selesai.

Untuk sebuah jiwa yang terperangkap dalam kerangkeng indah bernama cinta.


Salatiga, 3 April 2010.









Monday, March 8, 2010

KEPADA 'S' DAN 'S'

Dear ‘S’,
Mengapa seorang bapa tidak akan memberi ular beracun kepada anaknya yang meminta roti?


Aku mengenal seseorang yang tahu persis jawabannya. Seorang (anak) perempuan yang meminta roti kepada bapanya. Roti yang semasa hidupnya pernah menjadi satu-satunya permintaan yang ia miliki. Permintaan yang menahun pula sempat tidak dikabulkan dan membuat perempuan ini bertanya-tanya.

Sembilan tahun. Durasi yang bagi sebagian orang mungkin akan disebut terlalu lama untuk sebuah gelar sarjana. Rentang waktu yang bisa diasosiasikan dengan kebodohan dan kemalasan. Tapi, buatku tidak sesederhana itu.

Aku mengenal perempuan ini sebagai salah satu manusia paling cerdas yang pernah kujumpai seumur hidup. Memang, tidak ada standar baku yang bisa dipakai untuk mengukur seseorang cerdas atau tidak, tapi ketika mengenal seseorang yang dengannya kau bisa mengobrolkan topik apa saja, tidakkah itu cukup untuk menyebutnya cerdas? Sekali lagi, ini masalah siapa yang menilai, tapi bagiku, perempuan ini memang sangat cerdas. Kalau kemudian ia butuh waktu ‘lama’ untuk selembar ijazah sarjana, itu bukanlah ukuran untuk menyebutnya bodoh. Tak juga bisa dibilang malas, karena aku tahu ia tak pernah berhenti berusaha.

Di masa-masa akhir 9 tahun itu, aku menyaksikan bagaimana ia selalu tersenyum kepada setiap orang yang menanyainya ‘kapan lulus?’, bagaimana ia tak pernah merasa tersinggung dengan sindiran orang-orang yang mengatakan ‘katanya pintar, kok kuliahnya lama?’, dan bagaimana ia tak pernah mengeluh dan tetap menjalani hidupnya seolah-olah tidak ada masalah.

Ketika ancaman DO menunggu di depan matanya, tak sekalipun ia surut dan menyerah. Ketika berkali-kali mengganti topik skripsi yang berkali-kali pula ditolak dosen pembimbing, tak sekalipun ia kapok dan angkat tangan. Suatu malam, dalam himpitan kehidupan yang seperti itu, ia kemudian meneleponku. Bukan untuk sebuah sesi curhat panjang penuh air mata. Bukan untuk keluh kesah tentang roti yang diganti ular beracun. Tapi, untuk sebuah pertanyaan sederhana yang bermakna sangat dalam bagiku. “Bagaimana kabarmu?” Begitu ia bertanya.

Ini bukan sejenis pertanyaan standar sebagai pembuka perbincangan, tapi untuk sebuah cerita yang memang ia ingin dengar dariku. Kisah tentang sahabatnya yang terpisah daratan dan lautan demi mencari sebentuk hidup yang lebih bermakna. Saat itu, hidupku baik-baik saja, bahkan bisa dibilang jauh lebih baik setelah hampir dua tahun terdampar dan kehilangan arah hidup di pesisir timur Kalimantan. Berawal dari pertanyaan sederhana itu, kami kemudian mengobrol hingga subuh. Tentang kebersamaan kami di masa lalu, juga tentang hidupku selama dua tahun terakhir. Ketika aku kemudian balik bertanya, ia bilang bahwa ia baik-baik saja. “Aku hanya ingin memastikan hidupmu juga baik-baik saja.” Begitu ia menjawab kemudian.

Satu hal yang kemudian aku sadari adalah bahwa perempuan ini memiliki empati, ketulusan, dan kerendahan hati yang tak tertandingi. Ketika hidupnya menjadi abu-abu dan penuh ketidakjelasan, ia masih sempat menanyakan hidupku. Ketika cobaan hidup seakan tak berhenti menimpanya, ia masih punya waktu untuk mencari tahu apakah aku baik-baik saja. Masih punya energi untuk berbagi keceriaan hidup dan canda tawa dengan kami, sahabat-sahabatnya, yang kerap datang merecoki. Aku kemudian mengukur diri sendiri dan mendapati sosok yang tidak ada apa-apanya. Manusia yang tak pernah berhenti mengeluh pada hidup yang sesungguhnya baik-baik saja. Manusia yang begitu kikir mengucap syukur pada hidup yang telah banyak memberi.

Ah… Sepertinya aku mulai melantur. Tapi begitulah yang selalu terjadi ketika aku mengisahkan perempuan ini. Selalu saja tak ada yang pernah cukup untuk diceritakan.

“Menurutmu, kira-kira masalahnya di mana?” Aku bertanya ketika mengunjunginya suatu kali, sekaligus untuk sebuah ‘reuni’ kecil-kecilan dengan sahabat-sahabat lama di kampus. Aku tahu dia cerdas. Semua teman yang mengenalnya dengan baik kurasa akan sependapat denganku. Tapi, ketika hanya cerdas saja menjadi tidak cukup, lalu apa? Malas? Tidak juga. Aku tahu dia bukan tipe orang yang gampang menyerah. Bahkan untuk sekadar mengeluh pun sangat jarang.

Ia menghela napas kemudian menjawab. “Mungkin aku salah jurusan.” Sedikit tersenyum ia sesudahnya. Sama sekali tidak bermaksud untuk mencari kambing hitam atas masalah yang ia hadapi. Tapi barangkali, itulah jawaban terbaik yang ia punya. Mungkin sama halnya ketika seorang pelukis hebat mendadak kesulitan berekspresi ketika beralih profesi menjadi penyanyi. Sama-sama seni, tapi beda media. Jadi, sepertinya ini soal talenta. Jika pelukis itu masih punya pilihan untuk kembali ke dunia di mana ia bisa berekspresi dengan baik, perempuan ini tidak memiliki pilihan seperti itu. Ada kondisi-kondisi di mana kita tidak bisa begitu saja meninggalkan pilihan yang sudah kita buat, bukan?

Begitulah. Perempuan ini kemudian memilih untuk bertahan. Menggali semakin jauh ke dalam dirinya sendiri. Mencari tahu misteri apa yang menunggu untuk disingkap, mengikisi satu demi satu selaput yang menyelubungi sebuah rahasia entah apa. Apa yang salah? Kenapa bapa tak kunjung memberiku roti yang tak pernah luput menjadi doa?

Dalam kondisi seperti itu, muncul sebuah masalah baru. Masalah klasik yang tak bisa ditutupkan mata: uang. Ia membutuhkannya untuk membeli sejumlah alat penelitian yang mau tidak mau harus ada. Sementara, uang di rekeningnya tak lagi seberapa. Hanya cukup untuk biaya hidup sejumlah hari ke depan. Ia menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi membebani siapapun. Tak juga ia mencari pinjaman dengan niat tidak ingin merepotkan siapa-siapa. Satu kata yang kemudian ia resapi hingga ke atom-atom penyusun tubuhnya adalah ‘kepasrahan’. Berbeda tipis dengan kemenyerahan, tapi sangat berbeda motivasi dan aplikasinya. Iseng, ia mengecek saldo di ATM-nya. Dengan ekspresi bahagia yang tak terbahasakan, ia seakan tak percaya melihat saldo rekeningnya yang ternyata sudah bertambah. Sebuah kabar kemudian datang dari kakaknya, “Dek, ada sedikit uang aku transfer. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.” Sejumlah uang yang membuat perempuan ini terberangus dalam perasaan haru yang hanya sanggup terbahasa lewat air mata. Ia tahu dari mana kakak perempuannya mendapatkan uang itu. Sejumlah rupiah sebagai hadiah dari para tetamu untuk pernikahan kakaknya di kampung halaman sana. Sejumlah rupiah milik sepasang pengantin baru sebagai bekal untuk memulai kehidupan rumah tangga, namun berubah prioritas ketika ‘menduga’ adiknya lebih membutuhkan. Dugaan yang merupakan bentuk lain dari cinta seorang kakak perempuan kepada adiknya yang membuatnya sanggup menomorduakan keperluan rumah tangga barunya demi seorang adik yang barangkali sedang membutuhkan.

Alam berbahasa. Bapa menyahuti doa. Bermodalkan uang kiriman yang ‘tidak diminta’ itu, perempuan ini kemudian berhasil menyelesaikan skripsi hingga lulus ujian. Saat kebaktian syukur atas kelulusannya, ia menyampaikan bahwa pengalaman selama 9 tahun itu telah memberinya kesempatan untuk lebih mengenal bapanya. (Anak) perempuan yang menggumuli perbedaan roti dengan ular beracun.

Setelah kata-kata sambutan itu, ia kemudian mengajak kami yang hadir untuk menyanyikan sebuah kidung yang indah.

“Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti.
Satu hal tanamkan di hati indah semua yang Tuhan b’ri.
Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti.
Cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu.
Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti, kau lihat pelangi kasih-Nya.”



====================================


Dear ‘S’,
Apa yang mewujud setelah gelap memekatkan subuh dan dingin membekukan dini hari? Apa yang menampak sesudah hujan badai membasahkan sore hari dan menyisakan gerimis?


Aku mengenal seseorang yang tahu persis jawabannya. Seorang laki-laki yang mengakrabi gelap-dinginnya dini hari dan mencumbui hujan-badai sore hari.

Di usianya yang ke-19, yang bagi sebagian orang adalah masa-masa awal menjadi mahasiswa, ia berpamitan kepada ibunya untuk merantau, memenuhi tantangan hidup untuk segera bekerja. Sebuah pilihan yang sulit ketika harus menggelengkan kepala kepada tawaran kuliah demi niat untuk bisa segera menghasilkan duit dari keringat sendiri. Waktu itu, ia baru saja lulus dari sebuah program diploma jurnalistik.

Aku mengenal laki-laki ini sebagai salah satu manusia paling tangguh yang pernah kujumpai seumur hidup. Berpindah dari satu cobaan ke cobaan yang lain, untuk kemudian menjadi pemenang dari satu ujian ke ujian yang lain.

Di perantauan pertamanya, ia mendapat pekerjaan sebagai wartawan. Selama bertahun-tahun, ia tinggal di tempat yang sekaligus merupakan kantor dari sebuah perusahaan surat kabar di mana ia bekerja. Tidur beralaskan koran bekas, makan seadanya dari gaji yang tidak seberapa, dan menunggui kamar mayat hampir setiap malam demi berita-berita kematian yang harus segera dijadikan artikel. Ketika selesai dengan berita-berita yang harus segera dimuat, ia merelakan waktu tidurnya untuk mengetik naskah-naskah cerita yang ada di kepalanya, kadang di komputer kantor kadang di tempat persewaan.

5 tahun sesudahnya, ia memutuskan untuk menikahi teman kuliahnya. Sebuah keputusan yang bisa dibilang nekat karena tak ada cukup uang sebagai bekal menjalani kehidupan berumah tangga. Namun, ia meyakini bahwa setiap keputusan yang dilandasi niat baik dan ketulusan akan mendapatkan kemudahan. Saat itu, ia sudah dipindahkan ke kota lain dengan pekerjaan yang masih sama. Di kota yang baru, ia pun tetap tinggal di kantor surat kabar tempatnya bekerja bersama dengan beberapa rekan kerjanya yang masih bujang. Setiap akhir pekan, ia menempuh perjalanan dengan bis selama 4 jam untuk pulang ke rumah istrinya yang saat itu masih tinggal dengan ibunya di kota lain. Jatah libur yang cuma setiap hari Sabtu dimanfaatkan sebisa mungkin untuk tidur dan menghabiskan waktu dengan istrinya.

Hidup dengan ritme seperti itu selama bertahun-tahun membuatnya berpikiran untuk membawa istrinya ke kota di mana ia bekerja. Masalahnya adalah… rumah. Dengan kebutuhan yang semakin meningkat setelah menikah, tentu tidak sedikit dana yang dibutuhkan untuk hidup di sebuah kota besar. Boro-boro membeli rumah, untuk mengontrak saja sepertinya tidak memungkinkan.

Dalam masa itu, ia mulai mencoba-coba menjadi penulis fiksi. Tak ada peluang lain baginya untuk mencari uang tambahan selain dari menulis. Alasan ekonomi memang kemudian menjadi motivasi terbesarnya dalam menulis. Motivasi yang jujur dan apa adanya melampaui keinginan menjadi penulis idealis yang berkarakter. Ia pernah bilang padaku bahwa motivasi apapun yang kaupunya untuk menulis tidaklah menjadi masalah selama kau berusaha menghasilkan karya yang jujur dan bagus.

Ada sesuatu yang langsung membekas di kepalaku ketika pertama kali mengenal laki-laki ini. Sebagai seorang penulis yang sudah ‘punya nama’, ia tetap dengan ramah dan rendah hati membalasi setiap pesanku yang masuk ke akun facebook-nya di tengah-tengah kesibukannya yang padat. Begitu pula kepada orang-orang lain. “Pujian dan caci maki sudah saya terima dalam porsi yang sama. Tidak berarti bahwa keduanya tidak berpengaruh lagi, namun ada tidaknya pujian dan caci maki itu, saya tetap akan menulis.” Begitu ia pernah bilang padaku.

Suatu kali, di bulan Ramadhan tahun lalu, aku menyaksikan bagaimana ia menjadi pribadi yang begitu patut diteladani. Bagaimana ia mengawali puasanya dengan ‘hanya’ segelas air putih, lalu bekerja seharian tanpa kekurangan energi dan tidak bersungut-sungut, kemudian berbuka dengan makanan seadanya. Bagaimana setiap akhir pekan ia harus menempuh perjalanan selama 4 jam dengan bis ekonomi ke rumah mertuanya di kota lain untuk menjenguk istrinya yang sedang mengandung, kemudian kembali lagi ke rutinitasnya setiap Minggu dini hari. Sementara di saat yang sama, ia sedang menyiapkan sebuah buku tentang Muhammad yang tentu saja tak mudah untuk dituliskan. Aku menyaksikan bagaimana ia tak pernah kehilangan senyum dan keceriaan hidup di dalam kondisi yang serba sempit dan terbatas seperti itu. Aku kemudian menimbang diri sendiri dan mendapati sosok yang tidak ada apa-apanya. Manusia yang begitu mudah bersungut-sungut pada hidup yang sesungguhnya baik-baik saja. Manusia yang begitu gemar menyerah pada hidup yang begitu banyak memberi kesempatan.

Ah… lagi-lagi aku melantur. Tapi begitulah yang selalu terjadi ketika aku mengisahkan laki-laki ini. Selalu saja tak ada yang pernah cukup untuk diceritakan.

Ketika mulai berpikir-pikir untuk mengajukan kredit rumah, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa memiliki rumah memang bukan perkara mudah. Harus ada sejumlah uang muka, belum lagi cicilan setiap bulan yang harus dibayarkan ke bank. Namun, berbekal niat tulus untuk mendekatkan diri kepada Sang Empunya Hidup, ia meyakini bahwa kemudahan akan membanjiri kemudian. Dan, beberapa hari sebelum ia menandatangani akad kredit pemilikan rumah, seseorang mengirimkan SMS yang berisi ucapan selamat buat novelnya yang menjadi pemenang pertama di sebuah lomba penulisan berskala nasional. Dengan uang hadiah dari lomba itu, ia kemudian bisa membayar uang muka yang disyaratkan oleh bank untuk sebuah rumah mungil di atas bukit di luar kota dengan pemandangan yang menakjubkan. Selama bertahun-tahun kemudian, laki-laki ini hidup bersama istrinya di rumah mungil itu. Berangkat setiap pagi dengan angkutan kota yang berkali-kali ganti trayek. Menghemat rupiah demi rupiah yang bisa ditabung agar kelak bisa membeli motor.

Cobaan tak kunjung selesai. Dua tahun berturut-turut, istrinya mengalami keguguran. Dua kali pula harus menjalani kuretase yang sakitnya tak tertahankan. Di suatu subuh yang membekukan tulang, ia harus berjuang menahan air matanya agar tak tumpah keluar demi menyaksikan istrinya yang kesakitan karena pil penggugur kandungan yang harus diminumnya. “Akang puterin tilawah, ya” Ucapnya dengan segenap kekuatan yang ia punya. Segenap cinta yang ia miliki pada perempuan yang sedang diringkus rasa sakit luar biasa agar tidak takluk pada kemenyerahan. Ia tersenyum, berusaha meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Setahun sesudahnya, di tahun ke-5 pernikahan mereka, seorang bayi cemerlang hadir di rumah mungil itu. Seorang bayi yang lahir dari perjuangan tak kenal menyerah orangtuanya, dari ketulusan cinta ayah-ibunya. Anak laki-laki yang kemudian mengantarkan ayahnya mencapai posisi penting di sebuah perusahaan penerbitan di usianya yang belum lagi 30 tahun.

Sebab fajar akan menyingsing setelah gelap memekatkan subuh dan dingin membekukan dini hari. Dan, pelangi akan melengkungi langit sesudah hujan badai membasahkan sore hari yang menyisakan gerimis.


====================================


Dear ‘S’ dan ‘S’,


Kelak, ketika hidup mengantarkan kalian ke tempat yang lebih luas dan beraneka rupa, mungkin akan kalian temui orang-orang hebat yang mengagumkan. Orang-orang yang tak pernah lekang menumbuhkan semangat dalam diri kalian untuk bisa menjadi serupa dengan mereka.


Aku mengenal dua manusia yang seperti itu. Manusia yang menjadi sumber kekuatan ketika hidup melemahkan, manusia yang melimpah dengan ketulusan dan kerendahan hati, manusia yang didekati kemewahan hidup namun memilih untuk menjadi sederhana, manusia yang tak pernah kehabisan kasih sayang untuk ditaburkan dan ditebarkan. Dua manusia yang tak akan pernah berada jauh, yang akan membesarkanmu dengan penuh cinta.



Kutuliskan dengan mata yang berkaca-kaca kepada dua anak kembar beda rahim, tentang dua manusia terhebat yang pernah kukenal. Cinta, terkadang ingin berbahasa lewat air mata.




Rantepao, 24-28 Februari 2010

Sunday, March 7, 2010

?

To those who asked me what I did, I would have liked to say I’m a dreamer. Dreaming for nothing, for every single breath called happiness.

And for all happiness I’ve been achieving so far, I would like to confess that the more you give the more you will get, that unleashing is much more satisfying than possessing. And in the end, that happiness doesn’t spread somewhere out there. It exists uncountable inside of you.

To those who asked me who I was, I would prefer to say I’m a seeker. Seeking for emptiness, for every single step called journey.

And for all journeys I’ve been doing so far, I would like to admit that the more places you go, the more you will find yourself being trapped in a cycle. And in the end, that you will realize you’re not going anywhere.

Keep on dreaming, keep on seeking. The more you dream, the more you seek, the more questions and curiosity you will have.

Sunday, February 28, 2010

HANDPHONE

Seorang laki-laki tiba-tiba muncul di depanku. Kaos, jeans, dan sepatu sporty masa kini. Badannya tegap, kira-kira sedikit lebih tinggi dariku. Ia membawa ransel hitam di punggungnya dan sebuah travelling bag besar yang kemudian ia letakkan ke lantai. “Hai, kenalkan…” Ia berjalan ke arahku, mengulurkan tangan lalu menyebutkan nama dengan mantap. Aku membalas sambil tersenyum.

“Yang itu masih kosong kah?” Ia bertanya sambil menunjuk salah satu dari 3 ‘sub-kamar’ yang ada dalam ruangan ini. Sebuah kamar luas dengan sofa empuk di depan TV, meja makan bundar 4 kursi, dapur mini lengkap dengan kitchen set, dan 3 ‘sub-kamar’ berisi kasur paling empuk yang pernah kutiduri. Kamar dengan nomor pintu 513 di sebuah hotel berbintang di bilangan Jakarta Selatan.

Aku mengiyakan. Ia kemudian pamit untuk menaruh tas di ‘sub-kamar’ paling besar dalam kamar itu lalu kembali ke sampingku di depan TV yang tengah menayangkan sebuah iklan handphone dengan tag line yang sangat populer. Kami mengobrol sebentar kemudian ia mengajakku ke kamar depan untuk berkenalan dengan beberapa orang.

Laki-laki ini adalah satu dari 15 orang yang hari itu bertemu untuk pertama kalinya sebagai rekan sekerja. 6 minggu sesudahnya, kami, berlima belas, tinggal di hotel yang sebagian besar dihuni oleh ekspatriat itu. Setiap hari kerja, kadang bahkan Sabtu dan Minggu, kami akan seharian berada di sebuah kantor tak jauh dari hotel itu, berkutat dengan teori-teori pengeboran minyak, cara menghitung volume lubang sumur, dan mencampur-campur segala macam jenis bahan Kimia untuk sesuatu yang kemudian disebut ‘lumpur’. Malamnya, kami sibuk dengan PR yang bertumpuk-tumpuk. Saling mencontek satu sama lain, tanpa dibumbui aroma kompetisi. Begitu juga saat ujian tertulis di setiap akhir pekan.

Masa-masa awal training yang disebut ‘mud school’ itu adalah rentang waktu di mana aku tak pernah berhenti terperangah. Bagaimana tidak? Dalam beberapa hari pertama, aku berkenalan dan tinggal bersama sarjana-sarjana hebat jebolan universitas ternama negeri ini. Setidaknya di dunia pengeboran minyak. Sebutlah ITB dan UNPAD Bandung, kemudian UGM dan UPN Jogja, lalu ada Trisakti Jakarta. Bahkan, ada yang lulusan S2 dari Rusia. Tak sedikit yang kemudian mengernyitkan kening dan bertanya ‘di mana itu?’ ketika aku mengatakan ‘Satya Wacana, Salatiga’. Untung, ada salah satu yang kemudian nyeletuk, ‘Elektro, yah?’ Ah, kawan! Satya Wacana tak hanya Elektro. Tapi tidak apa-apalah, minimal kau tahu ada kampus yang bernama Satya Wacana.

Keterperangahan selanjutnya adalah ketika berada dalam kelas training. Setiap hari, kami dijejali dengan sesuatu entah apa yang sama sekali tak kupahami. Bagaimana tidak? Instrukturnya seorang American berusia sekitar 60-an tahun dengan bahasa Inggris yang hampir tak satu kalimat pun kupahami maksudnya. Apalagi isinya. Aku mengamati kawan-kawan baruku itu sesekali manggut-manggut. Entah karena paham atau sekadar bahasa tubuh untuk tujuan tata-krama. Saat istrahat, aku menanyakannya kepada beberapa di antara mereka dan ternyata mereka pun sama tidak pahamnya denganku. Ah, lega rasanya. Paling tidak, aku punya kawan senasib.

Dulu, aku berpikir bahwa kecerdasan akademik berbanding terbalik dengan kemampuan bergaul. Mereka yang pintar biasanya tidak gaul, demikian sebaliknya. Memang tidak seluruhnya benar, cuma begitulah fenomena yang pernah kuamati dari SMP hingga Perguruan Tinggi. Begitu mengenal kawan-kawan baruku ini, berantakanlah anggapanku tadi. Bahwa ternyata banyak manusia yang mendekati ‘sempurna’: pintar, kaya, baik, berwajah menarik, dan gaul. Ah, aku menjadi merasa tidak ada apa-apanya. Sungguh, tak ada sesuatu yang bisa kubanggakan padaku dibanding mereka. Pintar tidak, gaul apalagi. Ini bukan soal rendah diri, tapi tentang sesuatu yang sifatnya lebih realistis. Ibarat sebutir pasir menjumpa gurun, atau air sungai mendapati samudera. Sama-sama pasir tapi kalah jumlah, sama-sama air tapi kalah volume.

Waktu itu, beberapa bulan sebelum tahun 2004 berakhir, handphone sudah bukan lagi barang mewah. Hampir semua orang sudah memilikinya. Sebuah iklan bahkan dengan ‘tega’ menciptakan tag line yang berbunyi, ‘hari gini… nggak punya henpon!’ Iklan yang sering sekali muncul di televisi dan bagiku terdengar sangat menyebalkan. Ini (lagi-lagi) bukan soal rendah diri, tapi tentang realita yang tak bisa kututup-tutupi. Saat itu, pertengahan Oktober 2004, aku belum memiliki benda bernama handphone itu. Ketika resmi diterima sebagai karyawan melalui serangkaian tes di Balikpapan, salah satu bos-nya menanyakan bagaimana cara menghubungiku jika ada dokumen-dokumen atau urusan lain yang harus kuselesaikan sebelum berangkat ke Jakarta. Dengan malu-malu, aku memberikan nomor handphone kakakku yang saat itu juga sedang mencari pekerjaan di Balikpapan. Kabar gembira bahwa aku diterima di perusahaan itu pun aku terima dari kakakku yang dihubungi oleh orang kantor. Berita paling merdu yang pernah terdengar di kupingku sejak hampir dua tahun menjadi pengangguran di Kalimantan. Berpindah-pindah dari Balikpapan, Bontang, hingga Sangatta demi setiap kesempatan yang ada. Hidup menumpang di rumah sanak famili yang mau berbaik hati menampungku.

Sebagai manusia yang sudah menyandang gelar sarjana saat itu, yang kata orang sudah siap terjun ke dunia kerja, tentu saja aku malu meminta uang kepada orangtua untuk membeli handphone. Bukan hanya malu, bahkan orangtuaku pun tak memilikinya. Resmilah aku menjadi ‘korban’ iklan tadi. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan iklan itu, hanya saja kebutuhan akan handphone memang sudah mulai terasa.

Beruntung, kawan-kawan kerjaku sama sekali tidak bermasalah dengan itu. Lagi-lagi, kusaksikan kebesaran hati mereka yang tak sampai hati mengolok-olokku. Tak pernah sekalipun mereka ikut-ikutan mengucapkan tag line iklan yang sangat kurang ajar itu. Salah satu di antara mereka bahkan menawarkan diri untuk menemaniku membeli handphone ketika gajian pertama nanti.

Beberapa minggu kemudian, minggu terakhir Oktober 2004, di salah satu hari bersejarah dalam hidupku, aku seolah tak percaya memandangi sejumlah rupiah yang tertera di layar ATM. Kali pertama dalam hidupku, ada 6 digit angka di saldo rekening itu. Seumur hidup, belum pernah jumlahnya lebih dari sekian ratus ribu. Itu pun sangat jarang bertahan lama.

Singkat cerita, aku akhirnya memiliki barang ‘mewah’ pertama dalam hidupku. Handphone. Kubeli dari hasil keringat sendiri, setelah sekian tahun hanya bisa menyentuh dan sesekali menggunakannya. Handphone milik orang-orang yang berbaik hati mau meminjamkannya kepadaku.

Meski tidak tergolong yang paling bagus saat itu, memilikinya tetap saja tidak terbahasakan. Seperti anak kecil ketika mendapat hadiah robot-robotan atau mobil-mobilan ber-remote control.

Kenalkan! Handphone legendarisku, Sony Ericsson seri T230 yang ketika di kelas training harus selalu kumatikan karena tidak tahu cara mengaturnya menjadi silent mode. Ah… sedikit norak barangkali. Tapi tidak apa-apa.


Rantepao, 22 Februari 2010, 7:54 pm

Tuesday, February 23, 2010

MEMOAR BIRU-AIR*


Biru. Mayapada berubah monokrom. Laut lepas menari dipayungi langit polos. Seakan tak ada ruang bagi warna lain untuk mewujud. Bahkan, horizon pun tergaris samar dalam nuansa biru.

Aku berdiri di atas ‘atap’. Pada sebuah titik di atas kumpulan air mahaluas bernama Teluk Thailand. Di sebuah rig berjenis jack-up yang ketiga kakinya menancap dengan kokoh ke dasar lautan. Di ‘atap’ datar bernama heliped di mana helikopter menurunkan dan membawa pergi orang-orang, seperti aku, dalam satuan waktu tertentu. Ada yang setiap 2 minggu, ada yang sebulan sekali.

Selepas siang menjelang sore hari di tempat ini, retinamu akan bosan menangkapi panjang gelombang biru. Bukan karena organ matamu mulai memilih-milih, melainkan karena hanya warna itulah yang dominan ada. Ketika awan enggan menampak dan lautan tak menjumpa daratan. Sejauh mata memandang, hanya biru yang sanggup kau kenali.

Tak pernah sebelumnya kubayangkan akan bekerja di tempat seperti ini. Tempat di mana kau hanya bisa ke mana-mana sejauh lempengan-lempengan logam menjelma rig ini masih memiliki dimensi. Bekerja untuk sejumlah hari tertentu setiap 12 jam sekali. Kadang, ketika kau sedang tidur terlelap sambil memeluk istrimu atau bantal guling, aku justru sedang bersiap-siap untuk memulai giliran kerja; tepat jam 12 tengah malam. Dan, ketika kau barangkali sedang bercengkerama dengan anakmu di sore hari atau berjalan-jalan dengan pacar tercintamu di taman kota, aku malah sedang tidur terlelap. Sendirian. Di dalam ruangan sempit yang nyaman dan gelap gulita berukuran 2 x 5 meter atau sedikit lebih besar dari itu.
Aku lebih suka hijau. Melihat helai daun atau rerumputan lebih menyejukkan mata. Tentu saja ini soal selera. Ada yang bahkan tak suka biru atau hijau sekalipun, bukan?

Dulu, aku membayangkan akan bekerja di sebuah kantor di pusat kota. Tempat di mana kau bisa ke mana-mana. Tempat tak berbatas dimensi di mana segala peradaban manusia bisa kau rengkuh. Bangun pagi ketika matahari masih bersemu kemerahan lalu pulang ke rumah ketika jingga petang mulai membayang. Dan di akhir pekan, kau bebas melakukan apa pun yang kau suka. Jalan-jalan ke pantai atau taman hiburan bersama anak-istrimu atau malam mingguan dengan belahan jiwamu.

Entah biru entah hijau. Aku tak lagi tahu mana yang lebih menarik.

Hidup memberondongkan pilihan-pilihan yang kadang tak pernah terduga. Aku tak pernah menyangka ketika bertahun-tahun lalu diterima bekerja di sebuah perusahaan yang mengurusi pekerjaan seperti ini. Bahkan, ketika menandatangani surat kesepakatan kerja pun, aku tak tahu persis jenis pekerjaan apa yang akan kujalani sesudahnya.

Setelah dibekali dengan sejumlah teori selama 6 minggu, aku dikirim ke tempat-tempat terpencil di mana minyak dan gas bumi tersembunyi di dalam tanah. Perjalanan melintasi pulau dan lautan, dari rawa-rawa Kalimantan, belantara Sumatera, hingga ke lautan yang menyatu dengan Laut China Selatan ini. Aku bersyukur bahwa dengan begitu aku bisa mengunjungi banyak tempat. Kata orang, semakin banyak perjalanan akan semakin bagus buat hidupmu.

Jadi, aku tak tahu lagi. Entah biru entah hijau. Sebab biru akan menjadi hijau bila bersenyawa dengan kuning.

----------------------------------------------------------
Air. Bumi menjelma lautan. Seakan tak ada tempat bagi sesuatu bernama daratan. Puluhan meter di bawah sana pun hanya ada air. Melambai-lambai tak kenal lelah sepanjang waktu dalam tarian ombak yang abadi.

Setiap hari, aku berkutat dengan sesuatu yang bernama ‘drilling fluid’; lumpur pemboran. Mencampur-campur ratusan hingga ribuan barel senyawa Kimia menjadi satu jenis fluida yang lebih lazim disebut ‘mud’. Kemudian mengetesnya dengan sejumlah piranti agar sifat-sifat fisika dan kimianya tetap terjaga dengan baik.

Kecuali bahwa pekerjaan ini tidak jauh-jauh dari anasir berbau Kimia, rutinitasku adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Menjejalkan ratusan pipa besi satu demi satu menembus permukaan bumi ke tempat di mana sumber energi berbahan hidrokarbon terperangkap. Bersiaga agar tekanan di bawah sana tidak menjadi liar dan memuntahkan isi perutnya. Sekaligus berjaga-jaga agar tidak terjadi yang sebaliknya; ketika lumpur-lumpur tadi menyelusup ke dalam pori-pori batuan, lalu hilang dan tak muncul kembali ke permukaan.

Aku menyukai air. Bermain-main dengannya mengingatkanku pada masa kecil yang bahagia.

Dulu, aku berpikir bahwa aku akan menjadi seorang ilmuwan. Menyibukkan diri di laboratorium demi penemuan-penemuan baru. Menghadiri seminar-seminar dan berkutat dengan jurnal-jurnal ilmiah. Meneliti pigmen-pigmen tumbuhan yang berwarna-warni, mengakrabi hijaunya klorofil dan kuningnya karotenoid atau mengekstraksi senyawa-senyawa tak berwarna golongan alkaloid yang sanggup membunuh hama keong emas. Paling tidak menjadi dosen.
Entah Hidrogen entah Oksigen. Aku tak pernah tahu mana yang membuat air bisa diminum.

Hidup selalu menawarkan pilihan-pilihan. Aku tak pernah menduga bahwa pilihanku merantau ke Balikpapan akan membawaku ke tempat seperti ini. Pada saat teman-teman sealmamaterku mulai menyebar di berbagai pabrik Kimia dan kampus-kampus, tidak satu pun lamaran kerjaku yang ditanggapi oleh pihak kampus atau produsen bahan-bahan alam itu.

Ketika kau tak lagi tahu membedakan utopia dengan realitas, apa yang kemudian akan kau lakukan? Mempertanyakan lagi batasan-batasanmu tentang keduanya atau berusaha menisbikan batas di antara keduanya?

Aku memang tak pernah tahu. Entah Hidrogen entah Oksigen. Sebab, molekul air akan terbentuk ketika dua atom Hidrogen bersenyawa dengan satu atom Oksigen.


*Kenangan tentang sebuah sore yang biru di Rig Trident 15, Gulf of Thailand, Desember 2006

Rantepao, 23 Februari 2010; 2:46 am.



Friday, February 19, 2010

EMPIRE

Ratusan pasukan berkuda berbaris rapi dalam format setengah lingkaran. Perwira-perwira pilih tanding menunggang dengan gagah di punggung tunggangan masing-masing. Mata menyala, mengobarkan semangat perang yang membara. Paladin. Momok dunia peperangan yang sanggup meluluhlantakkan apa pun. Tak jauh di depannya, Mameluke, pasukan elit khusus kerajaan Saracens siaga dalam konsentrasi penuh. Senjata andalan berupa parang mematikan siap dilemparkan kepada siapapun yang berani mendekat. Di barisan paling belakang, puluhan Trebuchet siap melontarkan bola-bola api untuk meruntuhkan gerbang depan kerajaan musuh.

Tak sabar menunggu lebih lama lagi, sang panglima perang memerintahkan untuk segera menyerbu. Bola-bola api beterbangan di udara. Parang-parang Mameluke berseliweran melibas apapun di yang ada di dekatnya. Paladin datang menyempurnakan keberingasan pasukan kerajaan Saracens. Benteng pertahanan terdepan kerajaan China hancur, rata dengan tanah. Sejumlah kecil pasukan China yang ditempatkan di gerbang depan tak berkutik sedikit pun menghadapi keganasan pasukan Saracens. Kemenangan menyambut di depan mata.

Pasukan Saracens bergerak maju. Mayat dan puing-puing reruntuhan berserakan di mana-mana. Entah ke mana pasukan China bersembunyi hingga hanya menempatkan sejumlah kecil pasukannya di gerbang depan. Nama besar pasukan elit Paladin dan Mameluke mungkin sudah mengerdilkan nyali mereka untuk melawan. Di kejauhan, tampak kastil utama kerajaan China menjulang di balik pepohonan. Jalan masuk yang diapit oleh belantara yang pekat tak mengurungkan niat pasukan Saracens untuk segera menaklukan musuh. Mereka mendekati kastil utama dengan kepercayaan diri yang berkobar-kobar.

Di jalan masuk yang sempit itu, tampak beberapa penduduk sedang menebang pohon. Tanpa ampun, pasukan Mameluke melemparkan parang ke arah mereka. Nyawa-nyawa tak berdosa melayang dalam hitungan detik. Pasukan Saracens bergerak semakin mendekati kastil utama. Namun tiba-tiba saja, ratusan pasukan infantri datang seperti aliran air bah. Pasukan Saracens sontak kelabakan. Di jalan setapak yang sempit itu, Paladin dan Mameluke menjadi kehilangan kedigdayaan. Ruang gerak yang sempit menyulitkan mereka. Ketika para Paladin dan Mameluke sibuk meladeni tombak-tombak para infantri, ratusan anak panah melayang di udara. Barisan pemanah andalan kerajaan China ternyata telah menyambut mereka. Trebuchet-trebuchet Saracens tak berkutik sama sekali. Mereka hanya ampuh merobohkan bangunan namun tak berdaya sama sekali menghadapi para infantri yang makin lama datang semakin banyak.

Jalan sempit itu menjadi saksi bagaimana pasukan elit Saracens takluk menghadapai pasukan China yang hanya bermodalkan pasukan panah dan infantri kelas rendahan. Strategi jitu yang kemudian menjadi faktor penentu kemenangan.

#####

“Anjiiiiiiiing...” Sebuah umpatan tiba-tiba terdengar. Seseorang dengan ekspresi wajah yang kesal luar biasa bangkit dari kursinya sambil menggebrak meja.

Aku menengok ke arahnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Ah… Cupu lo. Mana pasukan yang lo bangga-banggakan itu?” Aku mengolok-oloknya agar dia semakin kesal. Entah kenapa aku begitu menikmati tiap kali melihat raut mukanya yang menjadi begitu ‘eksotis’ tiap kali ia kesal.

“Iya neh. Segitu doang kemampuannya?” Sebuah suara lain menimpali. Baru saja kami memainkan sebuah game strategi bernama Empire. Berempat, kami bermain berpasangan dalam permainan yang sudah ‘ketinggalan zaman’ itu. Aku berpasangan dengan si pemilik suara terakhir (sebut saja namanya A), sementara si pemilik wajah eksotis itu (sebut saja namanya R) berpasangan dengan komputer.

“Sekali lagi! Ganti pasangan tapi.” R mengancam. Ia berjalan ke arahku, mengambil sebatang rokok kemudian menyulutnya. Beberapa kalimat masih meluncur dengan lancar dari bibirnya. Isinya masih tentang kekesalannya. Aku dan A kemudian tak berhenti mengolok-oloknya lagi. Beberapa menit kemudian, kami kembali ‘berperang’ hingga cahaya matahari pagi menerobos masuk ke ruangan di sebuah game centre di Salatiga yang dingin.

Empire adalah semacam reuni bagi kami bertiga. Bertahun-tahun lalu, kami sering sekali memainkan game ini ketika aku masih bersama mereka. Tinggal di rumah kos yang sama, makan bersama-sama, kelaparan bersama-sama pula. Malam-malam, kami kerap menikmati segelas susu murni dan indomie goreng di warung pinggir jalan sambil bercerita. Kadang tentang teman-teman, keluarga masing-masing, kadang pula tentang mimpi dan cita-cita.

Ah… Mimpi dan cita-cita. Aku adalah salah satu manusia yang gemar betul membagikan mimpi dan cita-cita kepada orang-orang dekatku. Entahkah baik atau malah sebaliknya. Aku tak peduli. Aku hanya berharap bahwa setiap kali impian dan cita-cita itu aku bagikan, mereka akan berdoa untukku. Kata orang, semakin banyak doa semakin bagus, bukan?

Barangkali seperti kebanyakan orang, aku kerap membangun mimpi dan cita-cita yang menembus langit. Dari dulu. Ada yang mungkin akan menyebutnya ambisi, tapi buatku itu hanya soal sudut pandang. Namanya saja mimpi dan cita-cita. Bebas memilih apa saja, meski tak semua selalu bisa terwujud. Yang jelas, aku merasa tak merugikan siapa-siapa.

Aku mengenal A dan R sebagai pribadi yang sungguh bertolak belakang. A yang pendiam dan R yang ributnya minta ampun. R yang ekspresif dan A yang pandai menyembunyikan warna hati. Tapi aku menikmati kedekatan dengan keduanya. Barangkali karena aku berada di antara kedua tipe itu. Atau mungkin malah keduanya. Karena kadang aku diam seribu bahasa, kadang pula ramai seperti angin ribut. Entahlah. Ini bukan tentang baik-buruk, tapi lebih kepada pembawaan yang tak bisa ditawar-tawar. Yang pasti, A dan R sama-sama menyenangkannya.

Hidup kemudian menawariku pilihan untuk lebih dulu meninggalkan Salatiga. Sementara kepada A dan R, hidup masih memberi mereka kesempatan untuk berbetah-betah di sana. Salatiga, sepertinya, memang sangat posesif. Kota kecil di kaki gunung Merbabu itu seolah tak ingin melepaskan siapapun yang pernah datang dan tinggal di sana. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi cobalah bertanya kepada siapapun yang pernah menjadi mahasiswa perantau di sana. Aku jamin, mayoritas akan setuju denganku.

Ketika aku mulai mengakrabi belantara Kalimantan dan rawa-rawa delta Mahakam, A dan R masih mencumbui pohon-pohon rindang di taman kampus. Jarak kemudian menjadi sesuatu yang sanggup menyembunyikan mereka dari jangkauan pandanganku. Selentingan-selentingan mulai beredar mengisi udara, menyeruak diterbangkan angin. Kabar-kabar tak sedap mengalir dihanyutkan air. Tentu saja aku tak percaya.

Kepada A, aku titipkan pesanku kepada angin. Bahwa tak peduli aku pada kata-kata yang dibisikkannya. Bahwa aku lebih tahu daripada dirinya. Bahwa kau tak seperti yang diceritakannya. Belum pernah sepanjang hidupku, kutemukan manusia yang sepertimu. Sahabat yang tak pernah lelah memberi telinganya untuk mendengar. Sahabat yang tak pernah kekurangan untuk berbagi apa saja. Sahabat yang tak sedikitpun memiliki amarah untuk dilampiaskan. Keluarlah! Tunjukkan pada mereka bahwa kau tak seperti yang mereka pikirkan. Buktikan pada mereka bahwa jauh di dalam sana, di balik sanubarimu yang terdalam, ada mutiara yang siap untuk mengilaukan dunia. Aku menyayangimu dan kau pasti tahu, aku percaya padamu.

Kepada R, aku titipkan pesanku kepada air. Bahwa tak peduli aku pada kidung-kidung yang disenandungkannya. Bahwa aku lebih tahu daripada dirinya. Bahwa kau tak seperti yang dinyanyikannya. Belum pernah sepanjang hidupku, kutemukan manusia yang sepertimu. Sahabat yang selalu mengatakan hitam ketika aku hitam, putih ketika aku putih. Sahabat yang tak pernah berhenti memaki-maki namun tak pula pernah berhenti menyanjung-sanjung. Sahabat yang tak sediktpun memiliki dendam untuk disimpan. Berlarilah! Tunjukkan pada mereka bahwa kau tak seperti yang mereka pikirkan. Buktikan pada mereka bahwa jauh di dalam sana, di balik sanubarimu yang terdalam, ada intan berlian yang siap untuk mencengangkan dunia. Aku menyayangimu dan kau pasti tahu, aku percaya padamu.

Kepada A dan R, kutitipkan pesanku pada angin dan air. Bermimpilah untuk menggapai langit karena meskipun kau gagal, kau akan tetap berada di antara bintang-bintang*.

*dikutip dari sebuah buku motivasi yang judul dan nama pengarangnya tak saya ingat lagi.

19 Februari 2010; 07:00 pm.

Thursday, February 18, 2010

KENALKAN!

Kenalkan! Namaku panas. Aku seorang penipu. Ketika sejumlah energiku berubah bentuk, larut ke dalam molekul udara, kau akan mengenaliku dingin. Jangan tertipu! Aku seorang penipu.

Kenalkan! Namaku terang. Aku seorang pembohong. Ketika sekian kandela dicerabut dariku, hilang menjadi ketiadaan, kau akan memanggilku gelap. Jangan percaya! Aku seorang pembohong.

Kenalkan! Namaku hitam. Aku penuh tipu muslihat. Ketika seluruh sinar kupantulkan, tak menyisakan satu pun panjang gelombang, kau akan menyebutku putih. Jangan terperdaya! Aku licik.

Kenalkan! Namaku air. Aku inkonsisten. Ketika suhu tubuhku mencapai seratus derajat celcius, membuatku bergolak di dalam panci, kau tak akan melihatku lagi. Aku sudah berubah menjadi uap.

Kenalkan! Namaku karang. Aku tak setegar bayanganmu. Ketika ombak ajek menghantam tubuhku, mengikisi partikel demi partikel yang membuatku kurus, kau akan menginjak-injak aku. Aku kini hanyalah butiran pasir.

Kenalkan! Namaku tuhan. Aku ada aku tiada. Terasa panas terasa dingin. Menjadi terang menjadi gelap. Terlihat hitam terlihat putih. Berwujud cair berwujud gas. Sebesar karang sekecil pasir.


18 Februari 2010, 1:15 am